
Kamis, 13 September 2007
MADAME 04
Sambungan dari bagian 03
Aku menutup pintu kamar, sejenak aku terpaku. Ah, benar juga Bu Linda, dasar aku saja yang sudah kesetanan berpikir untuk memaksanya menuntaskan permainanku. Dadaku bergetar saat menyadari betapa bahayanya kalau kejadian itu sampai diketahui pak Rudi. Pasti aku mati... ya... mati! Dengan perasaan was-was aku menuju kedekat pintu, menempelkan telingaku di daun pintu itu, berharap kalau mendengar apa yang terjadi di bawah. Kamarku memang dekat tangga keruang bawah sehingga suara-suara di lantai dasar terdengar dari situ. Aku mendengar suara pintu di buka,"Maaf Mi, Papi pulang selarut ini uuuh capeknya", suara Pak Rudi terdengar khas, bariton. Tak ada jawaban setelah itu. Lalu terdengar langkah dua orang memasuki kamar dan menutup pintu. Aku masih tegang, pikiranku mulai tenang dan mencoba menerka apa yang terjadi, mungkinkah Pak Rudi menanyai istrinya kenapa begitu berkeringat? lalu apakah jawaban Bu Linda? Apakah itu akan menimbulkan kecurigaan? Ah mungkin saja Bu Linda membasuh mukanya sebelum ia keluar menyambut suaminya itu. Tapi apakah itu tak menampakkan bahwa Bu Linda tak tidur semalaman?
Oooh Fuck off!! Teriakku dalam hati that's not my business, what a heck! Aku kembali ketempat tidur. Mencoba memejamkan mata tapi ah, lagi-lagi wajah Bu Linda dengan tubuh tanpa busana datang, coba kuhapus, tak bisa. oooh tubuh mulus perempuan paruhbaya seleraku, putih bersih dan halus, wajah dewasa, keibuan. Dan wow buah dada itu.. payudara terindah yang pernah kulihat, besar, padat meski sedikit turun karena usia dan mungkin Pak Rudi yang terlalu sering meremasnya, itu justru yang kusuka, menambah pesonanya sebagai wanita dewasa. Terbayang bibirnya yang mmhh mengulum penisku penuh sesak, dan ah vagina terindah dan ternikmat yang pernah aku rasakan. Kenapa aku begitu tergila-gila pada wanita ini? Huh, goyang tubuhnya saat aku menggaulinya tadi, sungguh sebuah sensasi yang tak tertandingi oleh yang lain, yang pernah aku nikmati sebelumnya. Tapi, mungkin juga sekarang Pak Rudi sedang menikmati tubuhnya yang mm, ada rasa cemburu merayapi benakku yang membayangkan betapa lahapnya suami Bu Linda menerkam tubuh istrinya yang baru saja aku nikmati itu.
Tapi bukankah malam ini aku tidak tuntas? Sudah dua kali ia meraih kepuasan dariku namun belum sedetikpun aku menikmati puncak birahiku sendiri. Ini tidak adil! Akhirnya obsesi dan bayangan seksual Bu Linda itu pula yang menyebabkan aku nekat, aku bangun. Jarum jam menunjukkan angka 1.30 am. "Aku harus memuaskan diriku, sekarang juga! Yah sekarang juga, harus, aku harus menumpahkan spermaku dalam rahimnya, yah dalam vagina Bu Linda", benakku bergumam keras dalam hati. Dengan hati-hati aku melangkah keluar kamar, menuruni tangga menuju lantai dasar dan akhirnya sampai di depan kamar Pak Rudi. Ternyata akalku main juga, setelah kutempelkan telingaku pada daun pintu aku mendengar jelas dengkuran laki-laki, pasti itu Pak Rudi. Pria itu jelas terlalu lelah sehabis kerja sehari-semalam, untung juga ia tidak meniduri istrinya yang cantik itu, kalau ya wah gawat, dia bakalan dapat sisa cairanku di situ, hehehe, aku jahil juga.
Kebetulan di situ ada sebuah piano besar dengan kursinya. Aku mengangkat kursi itu dengan hati-hati dan meletakkannya di samping pintu. Lalu kunaiki dan mengintip lewat celah di atas. Kulihat Pak Rudi yang mendengkur keras dengan muka menghadap samping dan bantal menutupi telinganya, bagus berarti lelaki botak itu tak akan mendengar kalau aku harus nekat membuka pintu kamar ini. Dan kulihat Bu Linda masih terjaga, matanya tampak seperti menerawang jauh memandang ke langit-langit kamar, tampaknya wanita itupun tak bisa tidur. Aku yakin ia takkan sanggup memejamkan mata malam ini, wanita itu takkan sanggup melupakan peristiwa yang baru saja dialaminya, eh kami alami. Ia takkan begitu saja menghilangkan nyeri dan sisa kenikmatan di selangkangannya.
Sekarang aku benar-benar nekat, pokoknya "nekat of the year". Mengetuk pintu dari kayu jati itu mungkin akan membuat suaminya terbangun, tapi membukanya dengan hati-hati mungkin tidak akan menimbulkan suara. Dan.. krek! ah tidak terkunci. Langsung terbuka dan langsung juga membuat Bu Linda terhenyak, tapi dengan cepat aku meletakkan jari telunjuk di bibir. "Wow nekat..! Kau anak muda mm... untung saja aku telah memberinya obat tidur. Tapi ah, sungguh asyik bermain-main dengan bahaya seperti ini. Aku mau tahu apa yang akan ia perbuat padaku sekarang. Oh penis besarnya serasa masih mengganjal di celah dinding vaginaku, aku ingin lagi!"
Ia mengulapkan tangan memberi tanda padaku untuk keluar dan menunggu. Aku pun mengangguk, dan berlalu. Dadaku berdetak keras, kalau saja ini terjadi setiap hari berturut selama tiga hari saja, aku pasti jantungan. Lalu Bu Linda muncul dari balik pintu kamarnya dan berjalan kearahku,"Kita di dapur saja.. dari situ kita bisa lihat ke arah pintu kamar ibu", bisiknya."Baik Bu",Dapur itu memang terletak berhadapan dengan ruang keluarga dan pintu kamar tidur mereka bisa dilihat jelas. Mungkin Bu Linda berpikir kalau suaminya sampai bangun dan keluar dari kamar tidur maka akan tampak jelas dari jendela dapur ini, sementara jendela itu sendiri hanya tampak remang kalau dilihat dari arah sebaliknya. Cerdik juga! Aku yang sudah tak sabar lagi langsung menuntunnya untuk berdiri dan bersandar di dinding ruangan itu, kulepas ikatan gaun tidurnya, meraih buah dada montoknya dan langsung menyedot puting susu itu bergiliran, huh nikmatnya kelembutan payudara perempuan paruhbaya itu. Dengan posisi berdiri seperti ini, bush dadanya memang terlihat lebih menantang, walau agak turun tapi ukurannya yang diatas rata-rata itulah yang membuatnya jadi tampak begitu menantang birahi."Heeehhggg... mm ayooolah sayang jangan berlama-lama disitu, ingat situasi dong", keluhnya,"Baik Bu", jawabku tak membantah, lalu berjongkok sejenak di depan pahanya yang mengangkang dan mencicipi permukaan vaginanya, lidahku terjulur membasahi dinding tebalnya di bagian luar. Kemudian aku tergesa gesa berdiri segera kutusukkan penisku yang memang tegang non-stop sedari tadi. Masuk dan langsung menggoyangnya maju mundur. Tak seperti suasana sebelum Pak Rudi datang, desahan Bu Linda terdengar seperti berbisik.
"Huuuhh yaahh.. ini sayang yaah pijit yang agak keras yaah..", bisiknya ditelingaku sambil membawa telunjukk kananku menyentuh puting susunya, aku menjepit puncak buah payudara itu dengan jari tengah dan ibu jari, telunjukku membelainya. Kucoba meresapi gerakan pinggulnya yang kini ikut bergoyang seperti berdansa, mengimbangi gerakan pinggulku yang sesekali memutar-mutar, membuat penisku mengaduk-aduk lubang kenikmatan di antara pangkal pahanya."Kali ini kamu harus bisa keluar sayang, ooohh ibu mau cairan kamu masuk ke dalam rahim ibu. Harus sayang, kamu harus keluarin sekarang. Kalau tidak ibu nggak akan sanggup lagi, hheeehh ooohh yaahh ooohh yyyaahh iiyaahh aahh aauuuh enaknya ooohh besar sekali penis kamu aahh uuuh nikmat sayang?""Yah hhmm aahh nikmat sekali Bu ooohh saya hampir keluar sekarang oohh jepit bu oooh vagina ibu enaakkkhh mm", balasku mendesah sambil menundukkan kepala dan menyedot puting susunya. Kedua tanganku mengangkat buah dada itu sambil meremas-remas dan mengarahkannya ke mulutku yang terus menyedotnya."ooohh.. yyyyaahh.. ooohh yyyaahh, ibu juga mau kelu.. Aarrr aakkkhh yyyaahh, sekarang Gus sekarang ooohh genjot ibu sayang ooohh remas susu ibu sayang remeeess yaahh yang keraas lagi ooohh... sekarang yaakkkhh yaakkkhh aahh", perempuan itu melepaskan cairannya untuk yang kesekian kali di malam itu dan..."Saya juga bu ooohh vagina ibuu.. ooohh bu ooohh bu saya keluar, keluar keluaarrr enaak Bu ooohh enaak sekali aahh ahh ahh ahh ahh yaahh..", akhirnya aku juga melepaskan beban birahi itu dengan ejakulasi yang sangat kuat, wajahku mendongak ke atas, penisku memuntahkan seluruh isinya ke dalam liang vagina Bu Linda yang juga mengalami hal sama. Kami sama-sama merasakan puncak hubungan seks itu dengan dahsyat. Tubuh kami sama-sama menegang keras saling berpelukan erat sekali.
Beberapa detik kemudian kami terduduk lemas di lantai dapur itu, lega sudah sekarang rasanya. Tubuhku terasa ringan dan enteng. Bu Linda menyandarkan kepalanya di pundakku, ia juga tampak lemas setelah mengalami tiga kali orgasme, nafasnya masih terdengar tak teratur, ia lalu memperbaiki ikatan pinggang gaun tidurnya yang terlepas. "Kamu sudah puas sayang?", bisik Bu Linda. "Sudah, Bu. Terimakasih, ibu nikmat sekali. Sudah setahun lebih saya tidak melakukannya dan ibu adalah wanita tercantik yang pernah saya kenal",."Bisa saja kamu, Gus tapi benar deh kamu hebat" bisiknya sambil membelai dadaku yang bidang."Baru kali lho ibu mencapai puncak, Gus.""Ah saya juga sama deh bu puas banget" balasku mesra. Kamipun saling berpelukan mesra.
Sejak kejadian tersebut kami berdua selalu mengulanginya setiap ada kesempatan, terutama bila suaminya tugas ke luar kota.
TAMAT
MADAME 03
Sambungan dari bagian 02
Uhh, perkasanya anak muda ini, suamiku pun bahkan tak pernah dapat memberikan kepuasan seperti ini. Pengalaman pertamaku... ya. Terimakasih sayang, kamu telah memberikan sebuah pelajaran nikmat dan tak terlupakan ini. Aku jadi tahu betapa nikmatnya kepuasan seks yang kamu berikan. Tapi bagaimana dengan kamu sendiri? Hei dia masih tegar, yah aku masih bisa merasakan getar nafsu yang hebat di batang penisnya yang masih terjepit dalam vaginaku.
Pinggulnya sedikit bergerak."Maafkan ibu, sayang.. Ibu belum bisa memuaskanmu...", katanya dengan nafas yang masih mendengus naik turun. Aku memberinya belaian lembut dan beberapa kecupan di pipinya. Ia tersenyum mesra mendongakkan kepalanya yang bersandar di dadaku."Tak apa, Bu..", jawabku menghiburnya,"Yang penting ibu bisa memuaskan diri ibu, saya juga menikmatinya, kok","Meskipun kamu belum keluar?" ia memandangku seksama."Jangan pikirkan saya Bu...", padahal aku cukup kecewa juga. Dasar sok aksi, padahal kalau bukan Bu Linda sih sekarang juga kau pasti memperkosanya, benakku mengejek diri sendiri.
Teng! Teng! Teng!.. jam dinding antik di ruangan itu berdentang duabelas kali, seakan mengingatkan kami berdua akan bahaya yang bisa tak kami sadari. Raut wajah ratu rumah tangga itu mendadak pucat, penisku masih menancap di liang vaginanya, posisi kami memang belum berubah dari sejak ia mengalami orgasme. Penisku pun masih tegang terselip dalam kemaluannya yang mulai mengering. Tapi bunyi dentang jam itu seperti sebuah komando bagiku untuk waspada, penisku seperti mengerti akan hal itu. Ia mendadak menciutkan diri. Bu Linda memandangku seksama, mungkin merasakan perubahan cepat pada barang yang terjepit dalam vaginanya."Ibu cabut yah, sayang? Nggak apa-apa kan?""Nggak apa-apa, Bu. mm jam berapa bapak pulang Bu", tanyaku setengah berbisik."Biasanya sekarang ini sudah pulang... tapi kenapa yah..?""Atau mungkin bapak mm bapak..","Bapak apaan sih...","Apa mungkin bapak tahu, Bu?""Eh kamu yang nggak-nggak saja, nggak mungkin sayang. Rumah ini terlalu besar untuk bisa diintip dari luar","Gimana kalau dia sudah masuk dan mengetahui kita sedang berbuat ini?""Yang jelas kamu bukan polisi yang serba tahu dan suka menebak-nebak", ia berdiri, penisku tercabut dari liangnya, ada sedikit rasa geli saat batangku tergesek dindingnya."Aouw.. ah geli, Gus... kamu mau lanjutin sampai kamu puas? Ibu siap, siap layani kamu sampai ini bisa dikatakan seimbang dan adil", Katanya sembari memberi senyuman kearahku, wajah pucatnya tak tampak lagi. Sepertinya akan ada permainan lagi, ooo tentu dong!! Aku belum puas menikmati tubuh ini, aku belum sempat menindihnya, menggumulinya dan aahh.. menidurinya sepuas hati sampai wanita ini berteriak minta ampun. Tapi ah selalu ada tapinya.. tapi bukankan ini jam rawan Pak Rudi pulang?"Tapi Bu? Kalau Bapak datang?""Tenang... sayang, serahkan itu pada ibu", katanya, ia lalu meraih baju tidur, BH dan celana dalamnya yang tercecer di karpet. BH dan celana dalamnya ia pegang sementara gaun tidur itu ia kenakan lagi. Aku mengikutinya mengenakan juga celana pendek dan baju kaos tanpa celana dalam.
Bu Linda melangkah ke meja kecil di pojok ruangan lalu beberapa saat kemudian ia sudah menunggu jawaban dari gagang telepon yang menempel di telinganya. Aku mulai bisa menebak akal-akalan ini."Halo Pak, bapak di mana nih? Tapi kok sampai seginian larut belum selesai juga? Jam dua belas.. hah? ooo begitu, iya deh kalau gitu Mami tunggu yah, daah", ia meletakkan gagang telepon dan langsung meraih tanganku dan menarikku kearah tangga."Gus kita masih punya satu jam lagi... cukup, kan?""Ya cukup Bu, tapi saya kuatir kalau...","Kalau bapak datang? Tenang saja... lokasinya akan memungkinkan kita melihat kedatangan mobilnya dari jarak yang cukup jauh", Ia terus menaiki tangga, melewati lantai dua tempat kamar Lisa terus menuju ke lantai tiga di mana terdapat sebuah hall khusus untuk santai dengan sebuah tempat duduk empuk yang panjang dan sebuah payung besar mirip beach umbrella."Bukan itu maksud saya, Bu..","Lalu maksud kamu apa", ia menatapku,"Maksud saya,... saya kuatir kalau ibu minta lagi dan kita main lagi dan... aauuuwww", belum lagi kata-kataku habis Bu Linda menjamah batang penisku lalu meremasnya dengan keras."iiihh.. nakal kamu, awas lho kalau kamu keluar duluan, janji yah, keluar samaan", katanya genit. Aneh sikap Bu Linda yang sehari-harinya judes itu malam ini hilang tak berbekas, ia mendadak berubah seperti perawan yang baru saja beranjak remaja, kubalas mencubit pantatnya yang sintal itu dengan gemas. Kami berdua benar-benar menikmati moment itu mirip pengantin baru yang sedang berbulan madu.
Sampai di pojok lantai atas yang terbuka itu, aku memandang sekeliling. Rumah ini memang yang tertinggi di antara rumah lain di lingkungan kompleks pejabat teras dareh itu, berlantai tiga sehingga pemandangan sekitar kompleks tampak jelas terlihat dari sini."Sekarang lakukan apa maumu sayang, ibu mau puasin kamu sepuas-puasnya", ia merebahkan diri di kursi panjang yang bisanya menjadi tempat membaca koran minggu pagi suami wanita itu, ia masih memegang tanganku dari tadi."Tidak, Bu. Bukan ini yang saya inginkan", kataku menggeleng,"Lalu ibu mau kamu apain?""Coba sekarang ibu berdiri membelakangi saya", aku menunjuk ke arah pinggiran lantai yang menghadap pintu gerbang di bawah."Terus?""Naikkan sebelah kaki Ibu di bangku ini", aku mengambilkan sebuah bangku kaki tiga setinggi lutut,"Kamu mau ibu buka pakaian?""Tidak, Bu. Saya lebih senang melihat ibu dengan gaun itu, ibu tampak jauh lebih menggairahkan",Dasar anak muda! Serunya dalam hati, tapi ia senang juga pada fantasi seks anak ini. Baginya apapun yang dimintanya adalah pelajaran berharga. Ia yakin benar bahwa anak ini jauh lebih mengenal variasi seks dari pada ia sendiri yang selama perkawinannya hanya mengenal teknik seks dari suaminya, dan terus terang suaminya takkan pernah memberinya fantasi sehebat ini. Tanpa variasi dan sangat menjemukan.
Hamparan pemandangan vulgar itu tersaji sudah, Bu Linda, wanita paruh baya empat puluhan itu kini membelakangiku dengan pantatnya yang semok sejajar dengan penisku yang mulai tegang. Aku menyingkap ujung bawah gaunnya keatas dan menyelipkannya di ikatan pinggang gaun itu. Pantat itu terbuka dan samar-samar terlihat belahan vaginanya yang terjepit kedua belahan pantat itu. Kukocok sejenak penisku yang sudah tegang untuk menambah kerasnya, lalu perlahan kusisipkan kecelah yang mulai basah itu dari belakang."Ooohh... nggg", desahan khasnya saat menerima masuknya penis besar dan panjang itu."Ini salah satu posisi favorit saya, Bu, ibu suka?" aku meraih buah dadanya dari celah gaun tidur itu."Hooohh... i. I.. Iya.. ibu suka sekaliii.. hheeehh.. aahh", Pompaanku dimulai, sambil meremas payudara besarnya sebelah lagi tanganku memijit clitoris di bagian atas vaginanya. Bu Linda mendesah semakin cepat, nafasnya pun semakin memburu, tusukan-tusukan penisku dari arah belakang pantatnya kini ia balas dengan menggoyang-goyang pantatnya maju mundur berlawanan denganku. Hempasan pangkal pahaku menimbulkan decakan suara yang semakin keras saat ia juga menghempaskan pantatnya saat aku menusuk ke arah vaginanya."Iyaakkkhh iiihh uuhh aauuuwww... hheehh.. nikmat genjot aah","Oohh Bu, nikmat sekali ini, oohh ini aahh iniii Bu aahh... enaakkhh... ssshh","Ayooo sayaang ibu su.. sudaah hampir laagiii aahhmm ssshh...""Tahan Bu sentar laagiii aahh ssshh sssttt... eeehh... oooh enaknya vagina ibu","Aduuuhh.. Gus cepetaan sayaang... aduuuh enaknya kooon ooohh penis kamu, sayang",Sebenarnya aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempercepat ejakulasiku namun oooh, sulit sekali membuatnya cepat kalau dengan pasangan main secantik dan semolek Bu Linda ini. Dan kejadian itupun terulang, Bu Linda mendesah panjang dengan tubuh yang kembali menegang. Tangannya meremas tiang tempat ia berpegang sambil menggigit bibirnya."aauuuwww ibu nggak tahaan sayang ooohh..., enaakhh ibu keluar lagiii","oooh Bu mm", aku sedikit kecewa saat ia menghentikan gerakan. Kakinya ia turunkan dari bangku yang membuat penisku tercabut."Ibu capeeek, sayang.. selangkangan ibu rasanya pegal sekali", ia menatapku lemas, aku diam sejenak. Ah peduli amat..! aku harus memuaskan dirku sekarang! Kalaupun ia menolak akan kuperkosa wanita ini. Aku menariknya dengan sedikit kasar lalu kudorong ia perlahan untuk menungging dan bertumpu di kedua kaki dan tangannya. Pahanya kulebarkan dengan sedikit memaksa,"Ampun sayang, ibu nggak kuat lagi, oooh ibu nyerah deeeh" ia meminta."ooohh anak muda ini, gila!!! Benar-benar gila kau Agus.. kau mampu membuatku orgasme sampai dua kali dan kau sendiri masih belum apa-apa. Dan sekarang.. oh tuhan aku mau diapakan. Aku memang suka permainanmu yang hebat ini tapi ooouuuh... ampuuun gelii..."
Aku menghunjamkan penisku dari belakang, kupikir doggy style ini biasanya membuatku cepat keluar,"Maafkan saya bu, tapi tubuh ibu sangat menggairahkan, ini kesempatan yang sudah saya tunggu sejak pertama melihat ibu", aku mulai memaju mundurkan pantatku menggenjotnya. Permintaannya untuk berhenti justru semakin membangkitkan birahiku. Bagaimana rasanya orang yang sehari-hari tampak judes dan kejam ini merasakan keperkasaanku yang telah dua kali membuatnya tumbang. Aku semakin menikmatinya. Genjotanku semakin lancar, tak kupedulikan lagi desahan dan rontaannya yang timbul dari rasa geli itu. Sepuluh menit kemudian aku baru merasakan gejala ejakulasi, sengaja kupercepat dan perkeras genjotanku. Tanganku meraih buah dadanya yang menggantung dan bergoyang keras akibat benturan pangkal pahaku yang bertubi-tubi.
Tapi tiba-tiba sekali, sekelebat sinar terang dari sebuah kendaraan tampak di kejauhan. Dan wajah Bu Linda yang memang menghadap ke arah itu melihatnya jelas, tubuhnya reflek berhenti dari reaksi kenikmatan yang sebenarnya baru saja mulai ia rasakan lagi. Akupun demikian, kami bagai tersambar listrik, langsung terdiam dan tak bergerak, hanya beberapa detik sebelum Bu Linda reflek mencabut gigitan vaginanya dan berdiri menghadapku."Itu bapak! Kita harus kembali ke kamar masing-masing, kunci kamarmu", katanya cekatan, wajahnya mulai tegang, pesona seksual dan libidonya seperti hilang tak berbekas."Ayooo!!! Kamu tunggu apa..", ia seperti membentakku karena melongo seperti patung goblok."I... iya Bu, tapi..", aku meraih buah dadanya dan menyorongkan mulutku, tapi baru sedetik mulutku mendarat ia sudah menepisnya sambil melotot."Jangan keterlaluan, Gus. Ayo cepat kamu tunggu apa lagi", ia merapikan pakaian tidur itu dan berlalu. Aku mengikuti dari belakang. Bajuku sudah terpasang tapi celanaku hanya kutenteng."Besok kita lanjutkan, itu kalau kita selamat malam ini...", ia memberiku kecupan dan langsung berlalu dari hadapanku. Untung saja kamarku ada di lantai dua, di samping kamar Lisa, coba kalau di lantai dasar pasti sudah ketahuan Pak Rudi, karena untuk mencapai kamar khusus tamu harus melewati kamar tamu dan ruang keluarga dulu.
Bersambung ke bagian 04
MADAME 02
Sambungan dari bagian 01
Kami berdua terdiam untuk beberapa saat, sepertinya memang kami memikirkan sebuah hal yang sama tapi sama-sama malu dan enggan untuk mengungkapkannya. Sudut mataku full mentok ke arah buah dadanya yang maju banget, lebih dari rata-rata. Kuperhatikan lagi wajahnya dengan seksama, kulirik sejenak lalu membayangkannya, hmm.. Bu Linda ini adalah perempuan paruh baya yang tercantik yang pernah kulihat. Tapi.. Bagaimana caranya? Aku bingung sendiri sampai tiba-tiba ia membuka pembicaraan lagi, "Gus, menurut kamu kabar burung tentang kebiasaan buruk para elite pemerintah yang dikatakan punya hobi "jajanan" itu betul, nggak?" ia tak sadar semakin mengarahkan pembicaraan itu. Wah ini dia kesempatanku!"Tampaknya ibu cukup ketinggalan juga, ibu masih menganggap itu kabar burung tapi saya sendiri pernah menelitinya secara ilmiah, Bu","Oh ya?" dia tampak bersemangat lagi,"Ya, dulu saya bersama teman pernah melakukan penelitian dengan sampling dan polling di antara keluarga para pejabat dan eksekutif di Jakarta","Terus... terus gimana..." ia memotong,"Hasilnya cukup mengejutkan, sekitar 60 persen dari para bapak-bapak itu mengaku pernah atau memang sering melakukannya","Hah..!" Bu Linda terperanjat, matanya menatapku tajam, ini kesempatan lagi untuk membalas tatapan perempuan cantik itu. Sambil lalu aku melanjutkan keterangan yang sebenarnya hanya khayalanku saja, ini untungnya ilmuwan, biar ngawur juga sedikit tidak pasti dipercaya."Dan yang lebih aneh lagi, Bu. Sebagian besar dari para respondent menganggap hal tersebut suatu yang sudah lumrah. Malah ada lagi yang berpendapat bahwa aneh kalau seorang pejabat teras dan eksekutif tak memiliki wanita lain selain istrinya, lebih tepat kalau saya katakan partner seks lain karena para wanita tadi memang lebih sering berfungsi sebagai teman kencan. Kalau para pejabat pusat biasanya mengincar para artis dan bintang film, tentunya dengan konpensasi yang sebanding untuk si wanita, dan pejabat daerah biasanya memakai kedok perusahaan pribadi mereka, merekrut gadis-gadis cantik untuk dijadikan simpanan dengan kedok mempekerjakan mereka sebagai sekertaris, staff dan lain-lain", jelasku panjang lebar, kata-kata itu muncul begitu saja dari mulutku dengan logika yang sedikit ngawur. Bu Ani tampak sangat serius menanggapinya. Belum lagi aku melanjutkan kata-kata itu ia sudah memotong dengan pertanyaan yang justru membuat rencana kecil dan trik itu berjalan semakin lancar saja,"Kalau menurut kamu, Bapak gitu nggak? Maksudku mm suami ibu gitu", ini dia pertanyaan yang kutunggu, jantungku pun berdetak mulai kencang dan dengan susah payah aku berusaha mengatur intonasi suara agar terdengar stabil."Ngg... gimana ya, Bu. Ini yang berat. Tapi..." Aku jadi ragu menjawabnya, Ah aku harus mendapatkan perempuan itu malam ini juga, ya, harus, harus."Tapi apa, Gus?" ia semakin penasaran,"Tapi saya kan baru di sini, sebulan juga belum, Bu.""ooo... iya kamu benar juga, tapi nggak ada salahnya lho. Tapi oke lah, kita kembali ke topik tadi, terus gimana hasil penelitian kamu pada para istri pejabat", suasana jadi agak kikuk, Bu Linda berusaha santai, kakinya yang sedari tadi dilipat itu kini ia selonjorkan."My God, aku harus bagaimana lagi untuk mencoba melakukannya, ah peduli setan, aku bukan istri yang setia. Dan lagi apa gunanya sih? Oh.. Agus, sentuh aku malam ini, rasanya aku ingin sekali merengkuh tubuhmu, memberi jalan padamu untuk memasuki tubuhku", ia agak segan saat batinnya ingin menyebut nama benda yang ada di antara selangkangan pemuda itu. Dan... wooow, reaksi apakah itu? Ia seperti melihat perubahan jelas pada permukaan celana anak ini.
Aku pun mulai kehilangan bahan omongan, otakku sudah dipenuhi bayangan vulgar tubuh wanita berumur empat puluhan ini bertelanjang bulat di hadapanku. Pantat dan pinggulnya yang aduhai itu, oh betapa nikmatnya kalau tanganku bisa meremas-remasnya. Suasana mendadak vakum cukup lama, tak sepatah katapun yang keluar dari mulut kami, Ya ampun, bagaimana caranya aku... aku ingin sekali menyentuh benda itu tapi kenapa tangan ini rasanya seperti beku tak bisa kugerakkan. Ini kali pertama aku begitu bergairah pada seorang lelaki sejak perkawinanku sembilan belas tahun lalu, mungkinkah? Ini bisa kulakukan... ooohh aku ingin cepat-cepat meremas batang penismu anak muda! Oohh betapa nikmatnya kalau anak ini sampai menindihku, memainkan seluruh alat vitalku, memasuki liang rahimku ooohh, akankah ia jadi orang yang pertama berselingkuh denganku. Jari tangan Bu Linda saling meremas keras, aku jadi semakin yakin kalau wanita ini memang menginginkannya, sikat saja, Gus! Dia wanita kesepian! Lihatlah gerak-geriknya, perlakuan suaminya, kecantikan tubuhnya, bukankah itu yang kau cari? Entah dari mana datangnya keberanianku, lebih tepat kalau dibilang kenekatanku. Tanganku tiba-tiba mendarat di atas telapaknya yang saling meremas tadi.
"Ada apa, bu. Ibu sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" kupandangi matanya yang indah, bibir manisnya yang tampak begitu ranum itu seperti kehilangan warna keseharian yang biasa ia tunjukkan pada para pekerja."Gus", panggilnya serak dan berat."Ya, bu?""Ibu ingin sesuatu dari kamu... dan ibu harap kamu mau meluluskannya", ia menatap mataku. Teduh sekali pandangan wanita ini, wajahnya berubah seperti seorang pengantin baru yang sedang menghadapi malam pertama. Aku yakin, saat itu aku tak dapat lagi mengontrol diri, sebelah tanganku bergerak meraba pundaknya, entah setan dari mana yang memberiku tenaga tapi aku yakin seyakin-yakinnya... ini malam pasti bakalan kejadian,"Saya berharap inilah yang ibu inginkan", kataku lalu mengarahkan bibirku pada bibirnya yang merah... entah berapa lama setelah itu kami berdua sudah turun dari sofa dan terlibat pertarungan bibir yang sangat hebat. Tak ada lagi kata-kata, yang terdengar hanya desahan berat mengiringi waktu dan suasana yang semakin panas, aku menindih tubuhnya di lantai berlapis karpet tebal itu. Sementara tanganku meraba permukaan dadanya yang menggelembung besar dan montok, kususupkan telapakku melalui celah dasternya lalu dengan cekatan jari-jariku menarik BH-nya ke atas. Hmm... kelembutan buah dada wanita paruh baya itu semakin membuatku bernafsu menggumulinya. Tangan kiriku tak mau ketinggalan, merambat ke arah bawah menuju daerah pangkal pahanya, dari situ kutarik celana dalam pink-nya ke bawah dan langsung kulorotkan, Bu Linda menyambutnya dengan meloloskan CD itu lepas dari kakinya. Sejenak kuhentikan aktivitas itu, kurenggangkan jarak antara tubuh kami, lalu pelan-pelan kulepaskan dasternya yang begitu tampak seksi dimataku.
"ooohh akhirnya... mm... gumuli aku, sayang, gumuli aku, setubuhi wanita kesepian ini... ooohh...""Ibu yakin akan melakukan ini, bu?""Teruskan sayang, puaskan ibu malam ini. Ibu memang sudah lama ingin melakukan ini, kamu akan jadi lelaki pertama yang menyetubuhi ibu selain suami, lakukanlah, Gus, lakukan, ibu mau, Gus. Mau.. mau... teruskan sayang..." ia mengangkat-angkat tubuhnya untuk memudahkan aku meloloskan dasternya dan... tubuh bahenol istri Pak Rudi itu kini telah tersaji lengkap di hadapanku. Tergesa-gesa kulepaskan pakaian dan celana dalam yang kukenakan. Mata permpuan itu melotot melihat sesuatu yang berdiri tegak di selangkanganku, raut mukanya menampakkan rasa khawatir bercampur gembira.
"Besar sekali sayang... ya ampun, gimana rasanya?" serunya genit sambil mengulurkan tangan kearahku. Aku kembali menindih tubuh telanjang yang begitu menggairahkan itu. Mulutku langsung menuju ke puncak gunung kembar di dadanya dan crooop... menyedot puting susunya yang merah kecoklatan. Ternyata bentuk payudara ini jauh lebih bagus dari payudara wanita-wanita lain yang pernah kugauli, malah Annie mantan pacarku pun tak ada apa-apanya dibanding Bu Linda."ooohh... nikmatnya mulutmu sayang ooohh, kau benar-benar lelaki yang pertama kali memberiku kenikmatan seperti ini, suamikupun tidak pernah...""Ng.. aahh.. sedooot yang keraas... uuuhh.. nikmat sekali sayang","Kenapa aku tiba-tiba tak sabar ingin di masuki batang penismu? Menelan air manimu seperti di film itu atau menampungnya dalam rahimku ooohh... akupun rela kalau mengandung anak hasil perbuatan haram ini... sayang, ooohh setubuhilah aku sepuasmu, nak. Kau harus memberiku kepuasan malam ini."
Pinggulnya bergerak ke samping kiri dan kanan, seperti mengisyaratkan aku untuk segera mulai menyetubuhinya. No way, terlalu cepat. Kuturunkan wajahku sambil terus menjulurkan lidah di permukaan perutnya terus turun dan sampai di daerah yang paling aku sukai, hmm namanya juga istri pejabat, daerah ini tampaknya terawat baik sekali. Tak perlu ragu."Ibu mau diapain sayang ooohh.. ibu malu", tangannya mencoba menahan sambil menarik rambutku. Namun rasa geli di permukaan perutnya ternyata sangat ia sukai. Beberapa saat kemudian tangan itu malah mendorong kepalaku semakin bawah dan... nyam-nyam ini dia! Hutan lebat yang menyembunyikan oase itu kusingkap, oh... bukit kecil dengan sumur di antaranya yang berwarna merah merangsang birahi itu. Kusibakkan kedua bibir vaginanya dan creeep... ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah vagina yang sudah sedari tadi becek itu."aahh... kamu nakaall", jeritnya cukup keras,Terus terang vaginanya adalah terindah yang pernah aku cicipi, bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuk yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran kutarik kecil kedua belah bibir vagina itu dengan mulutku. Tak kusangka wanita pemiliknya sudah pernah mengeluarkan tiga anak dari vagina ini. Cairan kelamin mulai deras mengalir dari lubuk rahim Bu Linda."uuuhh... kamu yang pertama memperlakukan aku seperti ini, ooohh aku bahkan tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya, ya ampuuunn ooohh lidahmu oooh nikmatnya. Tak pernah sebelumnya suamiku berbuat seperti ini padaku, ah masa bodoh dia hanya seorang pecundang sekarang."
Sementara aku asyik menikmati bibir kemaluannya, ia terus mendesah merasakan kegelian, persis seorang gadis perawan yang baru merasakan seks untuk pertama kali, kasihan wanita ini dan betapa bodohnya Pak Rudy. Lelaki botak itu mungkin sedang asyik dengan perempuan lain malam ini. Jadi wajar saja kalau istrinya bersetubuh denganku, adil kan?"aahh.. sayang... ibu suka yang itu yaahh sedooot lagi dong sayang oooggghh", ia mulai banyak menggunakan kata sayang untuk memanggilku. Sebuah panggilan yang sepertinya terlalu mesra untuk tahap awal ini. Tapi kuakui sikapnya yang dewasa dan keibuan inilah yang menjadi daya tariknya. Lima menit kemudian..."Sayang.., Ibu ingin cicipi punya kamu juga", katanya seperti memintaku menghentikan tarian lidah di atas vaginanya."Ahh, baiklah Bu, sekarang giliran ibu", lanjutku kemudian berdiri mengangkang di atas wajahnya yang masih berbaring. Tangannya langsung meraih batang penis besarku dan sekejap terkejut menyadari ukurannya yang jauh di atas rata-rata."ini barang atau ketimun, Gus?" candanya padaku, lidahnya langsung menjulur kearah kepala penis yang sudah sedari tadi tegang dan amat keras itu."Mungkin ini nggak akan cukup kalau masuk di.. aah mm... ngggmm", belum lagi kata-kata isengnya keluar aku sudah menghunjamkan penisku kearah mulutnya dan crooop langsung memenuhi rongganya yang mungil itu. Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat batang penis itu tegang dan keras.
"Aduuuh enaak Bu ooohh enaknya Bu ooohh..", mulutku mulai mengeluarkan tempat bersandar sampai aku terduduk lagi di sebuah sofa panjang sementara ia terus menyedot dan mengocok batang kemaluanku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak. Tangan kananku meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang kesana kemari sembari tangan sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu. Sesekali ia menggigit kecil kepala kemaluanku dalam mulutnya",mm... mm...", hanya itu yang keluar dari mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya. Apakah aku sanggup menerima penis ini dalam vaginaku, uh... besarnya. Tak kubayangkan ada lelaki muda dan gagah dengan ukuran kemaluan sebesar dan sepanjang ini, alangkah nikmatnya, aku sudah tak sabar lagi.
"Crop..." ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya.. dan berdiri tegak di hadapanku, aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi, daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserubuti dan menyedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir vaginanya."Aooouuuhh... ibu ndak tahan lagi sayang ampuuun... Gusss... hh masukin ibu sekarang juga, ayooo..", pintanya sambil lalu beranjak menempatkan dirinya tepat diatas pangkal pahaku yang terduduk tegak di sofa, selangkangannya yang tersibak di antara pinggangku menempatkan posisi liang vaginanya yang terbuka lebar itu siap menerima masuknya penis besar yang kini sudah benar-benar tampak tegak lurus dan keras. Pelan sekali ia menempelkan bibir kemaluannya di kepala penisku dan mendorong perlahan,"Nggg... aa.. aa.. aa.. iii... ooohh masuuuk... aduuuh besar sekali sayang, ooohh...", ia merintih, wajahnya memucat seperti orang yang terluka iris. Aku tahu kalau itu adalah reaksi dari bibir vaginanya yang terlalu rapat untuk ukuran penisku. Dan Bu Linda merupakan wanita yang kesekian kalinya mengatakan hal yang sama. Namun jujur saja, ia adalah wanita paruh baya tercantik dan terseksi dari semua wanita yang pernah kutiduri. Buah dadanya yang membusung besar itu langsung kuhujani dengan kecupan-kecupan pada kedua putingnya secara bergiliran, sesekali aku juga berusaha mengimbangi gerakan turun naiknya diatas pinggangku dengan cara mengangkat-angkat dan memiringkan pinggul hingga membuatnya semakin bernafsu."Huuuhh.. aahh Bu, nikmat sekali Bu Linda.. ooohh, vagina ibu ooohh lezatnya ooohh goyang terus Bu aahh ini yang saya suka Bu ooohh","Yaahh nggg.. ooohh sayang... sedooot terus susu ibu, Gushh..."
Tangannya menekan-nekan kepalaku kearah buah dadanya yang tersedot keras sementara penisku terus keluar masuk semakin lancar dalam liang vaginanya yang sudah terasa banjir dan amat becek itu. Puting susunya yang ternyata merupakan titik nikmatnya kugigit kecil hingga wanita itu berteriak kecil merintih menahan rasa nikmat sangat hebat, untung saja kamar tidur Lisa terletak di lantai dua yang cukup jauh untuk mendengar teriakan-teriakan kami berdua. Puas memainkan kedua buah dadanya kedua tanganku meraih kepalanya dan menariknya kearah wajahku, sampai disitu mulut kami beradu, kami saling memainkan lidah dalam rongga mulut secara bergiliran. Setelah itu lidahku menjalar liar di pipinya naik karah kelopak matanya melumuri seluruh wajah cantik itu, dan menggigit daun telinganya. Genjotan pinggulnya semakin keras menghantam pangkal pahaku, penisku semakin terasa membentur dasar liang vagina itu."ooohh.. aa... aahh... aahh... mmhh geliii ooohh enaknya, Gus... oooh","Yaahh enaak juga Bu ooohh vagina ibu rasanya nikmat sekali, yaahh iiiyyaakkhh.. genjot yang keras Bu, nikmat sekali seperti ini, Bu ooohh ibu enaakk... ooohh Bu ooohh vagina ibu nikmat sekali, Bu", kata-kataku yang polos itu keluar begitu saja tanpa kendali, bahkan tak kupedulikan lagi estetika bahasa pada istri Pak Rudi ini, aku tak canggung lagi menyebut kata-kata seronok tentang alat vitalnya yang memang benar-benar terasa nikmat. Goyang pinggulnya yang sesekali memutar itu membuat seluruh permukaan penisku terasa membelai dinding bagian dalam kemaluannya. Tanganku yang tadi ada di atas kini beralih meremas bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Setiap ia menekan ke bawah dan menghempaskan vaginanya tertusuk penisku, secara otomatis tanganku meremas keras bongkahan pantatnya. Secara reflek pula vaginanya menjepit dan berdenyut seperti menyedot batang penisku. Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Bu Linda terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya, ooouuuhh.. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku merasa seperti ini, anak ini benar-benar perkasa, ooh dia masih tampak kekar dan tenang. "Aku menyerah anak muda, aku tak kuat lagi menahan ini oooh penismu terasa seperti peluru kendali nuklir yang meluluh lantakkan rahimku.. oooh nikmatnya.""Gusss... aahh ibuu ngaa... nggak kuaat aahh aahh aahh ooohh...","Taahaan Bu... Tunggu saya dulu mm nggg.. Noooh enaknya Bu.. tahan dulu Bu... jangan keluarin dulu."
Tapi sia-sia saja, tubuh Bu Linda menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di pundakku, dadanya menjauh dari mukaku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas keras susunya untuk memaksimalkan kenikmatan orgasme itu padanya. "ooo... nggg... aahh... sayang sayang sayang sayaang oooh enaak ibu kelauaar keluar keluar haah haah hhooohh ooohh...", teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku merasakan jepitan vaginanya di sekeliling penisku mengeras dan terasa mencengkeram erat sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam liang vaginanya sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku. Dengusan nafasnya mendominasi suasana yang mendadak sepi itu.
Bersambung ke bagian 03
MADAME 01
Kisah ini adalah asli seperti yang dituturkan kepada penulis oleh tokoh aslinya. Selamat Menikmati.
Rasanya sayang kalau kisah pribadiku ini terlewatkan begitu saja. So, aku mau semua netter yang membuka HP ini jadi tempat membagi cerita. Ini adalah kisahku waktu melakukan sebuah penelitian ilmiah di Manado, kota yang terkenal dengan kecantikan wanitanya. Saat itu karena prestasiku yang sangat baik, aku mendapat kehormatan untuk menerima dan meminta fasilitas yang aku perlukan untuk penelitian selama satu setengah bulan itu dari sponsor dan pemerintah. Para pejabat daerah itu juga sangat antusias menyambutku, mereka sangat mengharapkan penelitian ilmiah ini menjadi faktor pendorong bagi perkembangan ekonomi wilayahnya. Salah satu dari para pejabat itu pula yang memberiku kehormatan untuk tinggal bersama keluarganya di sebuah kawasan khusus pejabat pemerintah dan pengusaha terkenal di kota itu. Lagi-lagi aku bisa menabung jatah uang akomodasi yang diberikan oleh sponsor dan fakultas.
Oh ya, nama panggilanku Agus, saat ini aku berumur 24 tahun, aku tercatat sebagai exchange student di University of Osaka, negeri para Shogun dan Shamurai. Badanku biasa saja dengan tinggi 170 cm kulit kuning langsat, wajah sering dapat pujian (nggak nyombong lho). Ada yang aneh dalam diriku, di usiaku yang sekarang aku begitu menyukai wanita paruh baya yang berumur antara 37 sampai 45. Rasa-rasanya aku jauh lebih menikmati wanita-wanita dewasa, ibu-ibu kesepian atau para tante girang. Dalam hal hubungan seks, kaum mereka jauh lebih sensitif dan mm pokoknya heboh. Jelas itu karena tuntutan mereka akan kepuasan seks yang lebih dari biasanya dan juga mungkin karena faktor kematangan jiwa serta pengalaman terbang yang melebihi rata-rata (pilot kali yah?)
Nama-nama yang ada dalam cerita ini hanya samaran, jadi kalau ada yang merasa keberatan silakan hubungi hansip di tempat masing-masing. Cerita ini kutulis bersama orang kedua yang juga merupakan pelaku di dalamnya. Jadi nantinya terdapat dua pribadi yang akan berbicara di sini, aku dan seorang wanita yang dalam tulisan ini sebut saja namanya Ibu Linda. Dan percaya atau tidak, cerita ini kami tulis sebagai selingan setiap kali kami melakukan hubungan seksual.
Keluarga Pak Rudy, tempatku tinggal, adalah keluarga kaya dan terpandang di seantero propinsi Sulut. Disamping Pak Rudi sendiri yang pejabat teras Pemda, keluarga itu juga memiliki beberapa perusahaan besar yang bergerak di berbagai bidang. Istrinya sendiri memimpin sebuah grup perusahaan perkapalan dan pengelolaan hasil hutan, ketiga anaknya mereka kirim ke luar negeri. Satu di Australia dan dua lainnya di London. Di rumah itu mereka tinggal dengan tiga orang pembantu, dua sopir dan dua tukang kebun yang sehari-hari "ngantor" dari jam tujuh sampai jam lima sore. Sebagai orang kaya dan terpandang, Pak Rudi juga terkenal dermawan (atau pura-pura dermawan, entahlah). Ada juga seorang adik perempuan Pak Rudi, Lisa yang masih single meski sudah berumur 38 tahun, ia seorang dokter yang bertugas di rumah sakit pemerintah di kota itu.
Seperti kebanyakan perempuan Manado, kulit Mbak Lisa (demikian aku memanggilnya) putih bersih, tubuhnya lebih mirip gadis Amerika sono ketimbang orang melayu. Hidungnya mancung dengan bibir yang sensual sekali. Kalau mau melihat dadanya hmm.. ukurannya terus terang saja di atas rata-rata. Tak kalah cantiknya istri Pak Rudi, aku biasa memanggilnya Ibu, untuk menghormati kedudukannya sebagai pengatur kehidupan rumah tangga itu, orang mengenalnya dengan panggilan Bu Linda. Tubuhnya biasa saja, tak terlalu langsing dan tidak gemuk, pas. Ia sedikit cerewet, mungkin karena semangatnya sebagai wanita karir yang berdisiplin tinggi. Dalam masalah waktu ia termasuk golongan "gila ketepatan". Bu Linda tak pernah kepagian dan tak pernah juga kesiangan, ia selalu tepat waktu. Bicaranya selalu diplomatis, topik pembicaraannya dengan siapapun pasti terdengar sangat ilmiah. Ia memang Sarjana Ekonomi dan Management lulusan UI di Jakarta, jadi jangan heran kalau sesekali ia bicara masalah politik atau kebijakan ekonomi nasional bahkan dunia. Tapi ada satu hal yang kuanggap sebagai kekurangan wanita ini, wajah manisnya lebih sering tampak judes dan "killer", ia pelit senyum!
Di rumah itu, aku paling dekat secara pribadi dengan seorang dari sopir mereka. Namanya Pak Yos, Yosef Sengkei lengkapnya. Lelaki berumur hampir 51 tahun, pensiunan ABRI yang sudah mengabdi pada keluarga itu tak kurang dari sepuluh tahun. Kami sering berbicara ngalor ngidul. Ia memang ditugaskan untuk mengantarku kemana saja dalam rangka studi di lapangan sehingga kami banyak punya kesempatan untuk ngobrol.
Hanya lima hari sejak aku di sana, ada sebuah kejanggalan yang terjadi pada suasana keakraban dalam keluarga itu, setidaknya ini kata Pak Yos suatu ketika. Ia bilang betapa kelihatan harmonisnya keluarga Pak Rudy sejak aku ada di situ. Bu Linda yang biasanya sangat menakutkan mereka tiba-tiba jadi agak sedikit ramah dan terbuka, masih super disiplin tapi tidak setegang dulu. Mbak Lisa juga begitu, sekarang ia betah di rumah, sejak ada aku kami memang kerap ngobrol pada malam harinya. Biasanya hanya ngomong masalah kehidupan luar negeri atau perkembangan di negara ini. Dulu-dulunya kata Pak Yos, Mbak Lisa nggak pernah sedetikpun terlihat duduk di taman dekat kolam renang di belakang rumah. Habis dari rumah sakit langsung saja ngeloyor tidur, demikian cerita lelaki tua itu dengan polosnya. Kucoba jadi pendengar yang baik, toh ini mungkin bermanfaat bagi diriku.
Tapi memang, mengaku atau nggak aku punya perhatian khusus pada Lisa. Ada sebuah perasaan aneh saat pertama kali menatap perempuan setengah baya itu, meski hanya beberapa detik saja kami saling memandang, tapi aku seperti merasakan seolah ada aura yang kuat memancar dari matanya. Namun sebagai pendatang baru apalagi dengan status "Numpang-Man!!!" tentu akan sangat tidak sopan kalau aku langsung menunjukkan reaksi. Dan cepat-cepat aku menangkis semua bayangan-bayangan vulgar tentang kemolekan tubuh Lisa yang sempat bercokol di kepalaku saat aku melihat beberapa kali Lisa menerima kedatangan seorang dokter rekan kerjanya. Mereka kurang lebih seumur, tapi menurut Lisa yang mulai minggu pertama terbuka padaku itu, Dokter Anton (begitu Lisa memanggilnya) sudah beranak istri. Hanya saja menurut cerita dokter itu ia tak sebahagia yang didambakannya. Suatu kali aku pernah juga memberanikan diri untuk memperingatkan Lisa akan hal itu, dan ia tampak termenung saja seakan masalah itu baginya sebuah dilema.
Pak Rudy, lelaki berumur 55 itu tak begitu dekat dengan keluarganya, ia lebih sering berada di luar rumah, maklum pengusaha sekaliber dia dengan bisnis yang beragam ditambah dengan tugasnya di departement pemerintah membuat waktunya hampir-hampir tak ada untuk keluarga. "Dua puluh empat jam saja rasanya tidak cukup, Gus", katanya suatu hari. Yah, itulah gambaran keluarga Pak Rudy dengan beragam karakter mereka. Diam-diam aku juga sering memetik pelajaran dari keluarga itu untuk riset ilmiah ini
Aku masih ingat, malam itu 27 September 1998. Seperti biasanya kami, aku, Bu Linda dan Lisa berada di ruang keluarga. Kami menghabiskan waktu sambil menonton acara televisi dan menikmati kue-kue kecil sehabis makan malam. Pak Rudy biasanya sampai di rumah cukup larut, antara pukul sepuluh sampai duabelas. Saat itu sudah pukul sembilan malam waktu setempat. Kami semua duduk di sofa menghadap TV di ruangan itu, ngobrol sana-sini tentang semua yang up to date. Tapi anehnya, malam itu perhatianku seperti hanyut pada kedua wanita paruh baya itu, keduanya sudah mengenakan baju terusan sutra yang polos tak berlengan sehingga belahan dada mereka berdua tampak menonjol. Dada dan bahu mereka yang putih mulus itu menjadi titik perhatian mataku. Aku seperti terhipnotis, terutama oleh pesona tubuh Bu Linda yang duduk persis disampingku. Istri pak Rudy yang berwajah manis itu seperti kehilangan warna judesnya. Pojok mataku lebih sering melirik ke celah gaun tidurnya yang sesekali menampakkan bungkusan buah dada montoknya. Untung aku masih bisa kontrol, mereka beberapa kali menanyakan sesuatu tentang Jepang. Kujawab seadanya dengan mata yang masih saja jelalatan.
Setelah mengamati dengan cukup seksama ternyata Bu Linda berwajah lebih manis dari adik iparnya itu. Meski Lisa lebih muda empat tahun darinya namun kalau mau jujur, aku lebih senang kalau yang ngajak.. mm Bu Linda. Ah pikiranku mulai ngeres, mereka sering berbicara dengan topik yang tak kuketahui, inilah kesempatanku untuk mencuri-curi pandang kearah celah di bawah ketiak Bu Linda. Dan secara tak sadar, aku tak tahu kalau posisi dudukku dan Bu Linda hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Aku tak tahu apa yang menggerakkan badanku untuk terus mendekat dan hmm.. kulit halus itu terasa tersentuh bulu-bulu tanganku yang langsung saja merinding.
Aneh sekali, kedua wanita paruh baya itu tidak merasa canggung sama sekali. Layaknya seorang anggota keluarga itu, mereka sama sekali tak tampak terpengaruh oleh posisi duduk aku dan Bu Linda. Tak sampai lima belas menit setelah itu, Lisa menguapkan kantuknya. Rupanya dokter single dan cantik itu terlalu lelah, ia memang mengatakan padaku kalau siang harinya ia habis memimpin sebuah operasi bedah. Tak heran kalau ia tampak begitu lelah, matanya sayu dan sedikit merah.
"Kak Nan, aku pergi tidur dulu ya?" serunya pada Bu Linda, hmm waktu beranjak dari sofa pahanya sempat terlihat olehku. Tapi ah, perhatianku sudah telanjur pada Bu Linda."Gus... Mbak permisi dulu, kamu nggak ngantuk..?""Nggak kok, Mbak. Selamat tidur ya", aku mengedipkan sebelah mata."Makasih..", katanya sambil berlalu dari hadapan kami, ia sempat membalas kedipan mataku dengan senyum.
Beberapa saat kami berdua terdiam, tinggal aku dan Bu Linda dan TV yang ngoceh tak karuan dengan acaranya. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istri Pak Rudy itu. Sementara aku sendiri asik menghayalkan kalau-kalau suatu saat nanti tubuh wanita ini bisa kusentuh, kuraba, kuremas, kucium dan ooowww kutiduri sepuas hati."Heii... kenapa aku jadi begini ya? Rasa-rasanya ada yang aneh malam ini, berduaan dengan pemuda ini, sesuatu yang mungkin di luar dugaan?""Hmm... anak ini boleh juga, semoga suamiku pulang lebih larut lagi.."Batin Bu Linda seperti merasakan sebuah getaran sejuk dari tubuh anak muda yang ada persis di sampingnya."Aneh, kenapa aku merasa biasa sekali dengannya, dia bukan siapa-siapa. Bahkan aku baru mengenalnya hanya satu minggu, tapi rasa-rasanya ia seperti orang yang telah kukenal lama" perempuan itu mencoba sedikit menggerakkan bahunya sehingga menimbulkan pergesekan di antara kulitnya.
"Eiiit... apa-apaan ini Bu Linda, mungkinkah dia berpikir sama denganku?""Ii... ibu, bapak pulang jam berapa Bu?""Entahlah... ibu juga nggak pernah perhatiin lagi tuh, pulangnya jam berapa", tangannya meraih remote control diatas meja dan mencoba mengalihkan perhatian kearah TV."Apa kamu punya rasa yang sama denganku, Gus? Semoga saja iya..? Tapi benar juga katamu. Apa suamiku tak cepat datang dan menemukan kita sedang..." Batinnya mulai dilanda konflik."Kamu di Jepang nggak punya pacar, Gus?" ia menggeser duduknya yang terlalu dekat itu, lengan bagian atasnya tak lagi menempel di ujung bahuku. Aku agak sedikit kecewa. Sudut mataku masih saja mengikuti gerak tubuhnya yang cukup mencurigakan."Dulu pernah tapi sekarang sudah nggak lagi...","Kalau boleh ibu tahu, kenapa kalian sampai putus? Maaf yah","Nggak apa-apa, Bu. Hmm kami nggak punya titik temu saja", jawabku,"Titik temu..?""Ya. Kami tidak cocok dan sama-sama egois, tapi saya rasa bukan karena masalah perbedaan budaya, tapi karena mungkin sama-sama masih muda dan ego saya yang masih tinggi","Lho bukannya yang seumur kamu bisa jadi partner atau mm pasangan yang cocok?""Nggak juga kok, Bu. Malah saya rasa sebaliknya, saya kira saya hanya akan lebih cocok dengan yang lebih dewasa", aku mencoba menenangkan diri dengan mengatur arah pembicaraan itu."Apa pengertian dewasa yang kamu maksud, dari segi umur?""Mungkin ya, kalau mau jujur saja saya lebih menyukai wanita yang lebih tua dari segi umur",
"Hei... hei... kamu mau sama aku? Hmm, kamu lumayan ganteng lho", batinku."Emang kamu pernah pacaran sama yang lebih tua eh dewasa gitu?""Pernah sih, tapi sayang... harus putus juga","Kok putus terus sih?""Dia sudah berkeluarga, bu..""Aku juga mau kalau kamu mau, betapa enaknya selingkuh sama yang lebih muda kayak kamu, kamu mau.? kalau ya, malam ini juga aku kasih kamu, Gus", teriaknya dalam hati.
"Tapi, pantas nggak sih kalau aku... mm.. sama pemuda seumur ini, gimana rasanya ya? Sudah lama aku menginginkan moment seperti ini", tak disangka wanita bersuami itu kini berkhayal tentang perselingkuhan yang sebelumnya tak pernah sama sekali ada dalam pikirannya, sungguh ajaib anak muda ini, tubuhnya seperti memancarkan gairah birahi yang sangat kuat pada perempuan paruh baya sepertinya. Malah lebih jauh lagi, batinnya terus mengkhayal, matanya tak lagi memperhatikan TV, diintipnya tingkah anak muda setengah umurnya itu dengan seksama lewat pojok matanya."Ada kejanggalan pada gerak-gerik anak itu, memang, hmm akan kupancing dia"."Tapi kau wanita bersuami, Linda, apalagi ia jauh lebih muda darimu. Selayaknya kalau kau memanggilnya NAK, bukan sayang, lagi pula kabar tentang kebiasaan buruk suamimu belum tentu benar.""Tapi kenapa suamiku belum juga pulang?" Hati wanita itu terus berkecamuk, ia berusaha keras menyembunyikan hal itu dari pemuda gagah yang ada persis di samping tempat ia duduk. Ia juga sepertinya sadar posisi duduk mereka bisa membuat orang lain termasuk suaminya berpikir yang tidak-tidak tapi mengherankan juga, pantatnya terasa begitu berat untuk bergeser.
"Sayang sekali ya, tapi ibu lihat hal itu normal saja kok", ia mencoba mencari pembenaran, tentunya dengan penuh harap kalau jalan pembicaraan itu menjurus ke arah yang ia inginkan."Nggak ngerti saya, Bu. Tapi... ng... saya masih berharap bisa menemukan yang seperti itu", Waw! Bu Linda menyilangkan pahanya sehingga bagian bawah gaun tidur itu tersingkap cukup menantang. Paha putih mulus itu dengan cepat mengalihkan perhatianku dari daerah ketiaknya."Apakah ia lupa kalau seleraku adalah wanita seumurnya? Atau ia memang sengaja memancing reaksi?" mungkin benar kata teman-temanku, bahwa kebanyakan istri pejabat memang gatal seperti ini. Mengetahui suami mereka banyak "jajan" di luar rumah. Atau jangan-jangan ini memang sikap yang ia anggap biasa saja, Ingat, paling tidak dia pernah tinggal di Jakarta cukup lama, tentunya waktu menamatkan kuliahnya di UI.
Bersambung ke bagian 02
TETANGGAKU YANG MENGGAIRAHKAN
Saya sudah berkeluarga dengan putra/putri 4 orang, usia saya sekarang 42 th, hobi main catur. Tetangga sebelah rumah kebetulan suka juga catur, setiap ada kesempatan luang (misal malam Sabtu atau malam Minggu) kami sering main catur, tempat mainnya di rumah tetangga saya itu.
Tetangga saya ini mempunyai putra 3 orang, di rumah tetangga saya ini tinggal pula mertuanya (ibu dari isterinya) yang sudah menjanda lebih kurang 8 tahun. Umurnya kira-kira 51 tahun, tapi tubuh si Ibu masih kenceng aja, mungkin karena si Ibu setiap hari Minggu pagi rajin mengikuti senam yang diadakan di RW kami.
Pada mulanya saya tidak punya perasaan apa-apa sama si ibu tetanggaku ini, malah saya menaruh rasa hormat layaknya orang muda kepada orang tua. Hingga pada suatu kejadian, malam itu (Sabtu malam) seperti biasa saya berkunjung ke rumahnya untuk bermain catur, "Permisi.."."Ya Silakan masuk.." terdengar jawaban dari dalam, rupanya si Ibu yang menjawab. Si ibu juga yang membukakan pintu "Eh.., si Aa" katanya."Eman ada bu " kata saya dalam bahasa sunda."Ke rumah kakaknya nganterin anak-anaknya, katanya sih mau nginep di sana" jawab si ibu. Dari pembicaraan kami kemudian, rupanya anak kakaknya malam ini sedang berulang tahun. Jarak antara rumah tetanggaku ini dengan rumah kakaknya kurang lebih 6 km, bisa dicapai dengan 2 kali ganti angkot.Pantesan di rumah ini sepi sekali, "Kalau begitu, mangga atuh bu" saya bersiap-siap untuk pulang lagi."Enggak duduk dulu, nanti ibu bikinin kopi yang medok, sekalian nemenin ibu yang sendirian".
Akhirnya atas desakan si ibu saya masuk ke rumah itu, dan duduk di kursi tamu, kemudian si ibu ke belakang/dapur untuk membuat kopi."Aa.., Aa", si ibu memanggil saya dengan suara yang agak pelan."Ada apa bu", jawab saya."Bisa minta tolong sebentar..", kata si ibu lagiSaya lalu ke dapur menemui si ibu, rupanya si ibu agak kerepotan menyalakan kompor gas untuk merebus air. Dan memang setelah saya mencoba, handle untuk menyalakan kompor kelihatannya sudah slek, sehingga percikan api dari magnit tidak keluar.
Nah disaat sedang mengutak-ngatik kompor itulah, jarak antara saya dan si ibu dekat banget."Si teteh juga kadang-kaang suka susah kalau nyalain kompor ini.", kata si ibu, sambil tangannya mencoba handle yang lain. Entah disengaja atau tidak buah dada si ibu nempel di pundak saya, dan itu dibiarkan terus oleh si ibu. Tiba-tiba ada perasaan lain dalam diri saya, penis saya langsung berdiri tegang. Entah gimana mulanya, tahu-tahu si ibu sudah memegang penis saya."Ih si Aa berdiri"."Heeh.., anu ibu sih nempel pundak saya".
Berikutnya penis sudah diremas-remasnya dengan agak kasar dan tidak lama kemudian kami sudah berhadapan dengan jarak sekitar 10 centi."Si Aa cakep amat sih..", Kata si ibu."Ah ibu bisa saja", saya tersipu sambil mulut agak bergetar. Tiba-tiba si ibu mencium saya dengan ganasnya, tangan kanannya dengan susah payah masuk ke dalam CD-ku, dan dikocoknya penisku."hh..., glek..., ugghh..., Aa..., ibu sudah lama sekali tidak memegang batangnya laki-laki... hh... uggghh", desah si ibu. Tangankupun tidak kalah aktifnya dengan tangan si ibu. Kuremas buah dadanya yang lumayan besar meski sudah turun, kemudian si ibu menyuruhku untuk menyedot putingnya."Eh bu pintu depan sudah di kunci belum, nanti ada orang masuk celaka kita", kataku.
Lalu si ibupun bergegas ke depan untuk mengunci pintu, permainanpun dilanjutkan kembali, kali ini di ruang keluarga persis di depan pesawat TV.Singkat cerita kami sudah berbugil ria, ternyata si ibu suka sekali nge-joli. Penisku dikulumnya dengan nikmat sekali."Ohh..., ahh..., mmhh...", Aku merasakan nikmat yang bukan alang kepalang, kemudian puting susunya kusedot."Aa nyedot yang kencengan dikit biar terasa... hh", pinta si ibu. Sesaat kemudian saya sudah berada di bawah si ibu, dengan kasarnya penis saya dimasukkan ke dalam vaginanya dan pantatnya dinaik-turunkan dengan kencang sekali."Aa..., ohh..., A, Ibu mau keluar..., Ohh..., egghh..., nikmat amat Aa..., Nuhun..., Aa".Tidak lama kemudian akupun keluar, "Crat..., creet..., creeet..", dan kamipun mengelepar bersama merenggang penuh nikmat.
Hubungan badanku dengan si ibu masih berlanjut hingga kini, sudah puluhan kali saya melakukan itu dengan si ibu. Kali ini kami berhubungan seks di kamarnya, semacam pavillyun. Jadi kalau mau ke kamarnya cukup dari luar saja tidak perlu harus masuk ke dalam rumah. Kami sudah punya kode sendiri, kalau si ibu kepingin berhubungan seks denganku.
TAMAT
MBAK RS, ISTRI ORANG YANG LUGU
Namaku Krisna, umurku 26 tahun. Kejadian ini kira-kira setahun yang lalu, ketika aku menelepon ternyata salah sambung. Saat itu aku menelepon temanku tapi ternyata di seberang sana tersambung ke salah satu kantor. Sebut saja yang menjawab namanya Mbak RS, umurnya 33 tahun. Karena suaranya yang bagus, merdu dan agak ngebas, aku mencoba untuk mencari bahan pembicaraan lain supaya jangan diputus, ternyata dia menanggapi. Aku tanyakan dengan agak nekad apakah dia sudah punya pacar, "Belum" dia jawab baru ditinggal pacarnya. Ketika lama bicara akhirnya kami mencatat nomor telepon masing-masing.
Keesokan harinya aku menelpon dia lagi, kali ini pembicaraan ngalor-ngidul, tanpa disadari ketika bicara tentang pengalaman pacaran, dia bilang, "Kalau udah nikah hubungan tidak terlalu intens karena agak bosan.." wah ternyata dia berbohong, akhirnya dia mengaku kalau dia sudah menikah dan punya anak 1 yang berumur 4 tahun
Akhirnya aku jadi makin berani lalu kutanyakan bagaimana rasanya bulan madu karena aku sama sekali belum pernah merasakan berdekatan dengan wanita (walaupun itu yang namanya ciuman, swear belum pernah). Dia bilang, "Itu sih alamiah.." kali ini dia mulai tidak malu-malu lagi.Lalu kutanya lagi, "Gaya apa yang biasanya dilakukan." Mak RS menjawab, "Kalau Masku pada awal permainan sangat menyukai menciumi leherku kemudian baru menghisap-hisap payudara..."Lalu kutanya lagi, "Kalau Mbak senangnya gimana..?"Aku sih biasanya paling senang di atas.. cepet nyampe..!" balasnya manja.Masih dipercakapan telepon juga kutanyakan, "Tolong dong Mbak ajarin aku.. Nggak ada bekasnya ini kan... Mbak ikut KB kan..?""Enak aja.. cari aja perempuan yang masih single kemudian nikahi.. bereskan.." balasnya dengan nada sedikit genit.
Wah ternyata Mbak RS ini jinak-jinak merpati.. aku menjadi semakin tertantang. Lalu kucoba pancing kembali."Iyah deh.. enggak usah yang berat-berat.. ciuman ajah.."Ternyata dia mulai memberi angin dengan memberi jawaban, "Lihat aja belum udah mau cium-cium.. entar kalau udah liat malah lari..?Aku menimpali kembali, "Siapa yang lari saya atau Mbak..?Dia jawab, "Udah ketemu aja deh.. di mana..?Langsung kujawab, "Di KFC aja terus langsung nonton.. filmnya bagus.. The Entrapment? Mbak enggak usah balik ke kantor aja"Akhirnya di akhir percakapan kami janjian untuk ketemu besok jam 12 siang di KFC.
Esok harinya jam setengah dua belas aku sudah nongkrong di KFC, tepat jam 12 ada seorang wanita setengah baya dengan rambut panjang disemir agak merah, memakai jas dengan dalaman serta celana panjang. Waduh, seksi sekali, tingginya kira-kira 170 cm, berat 65 kg. "Waduh montok cing.." pikiranku langsung tambah ngeres, aku bersumpah bahwa aku harus dapat menyetubuhinya.
Hanya sebentar di KFC kemudian kami meluncur ke 21, kebetulan film baru akan mulai. Kami duduk di tengah pinggir, kebetulan karena hari Senin yang nonton cuma sedikit. Setelah film dimulai, 'senjata rahasiaku' mulai berdiri kencang. Kemudian kuberanikan untuk memegang tangannya, ternyata dia diam saja.Aku berbisik, "Mbak bohong katanya ditelepon bilang sudah nenek-nenek tapi nyatanya masih seperti umur 20 tahun, beruntung yah suami Mbak."Lalu aku berbisik lagi, "Mana janjinya Mbak.. katanya boleh cium kalau enggak lari.."Kemudian dia melihat ke sekeliling, "Malu.. ntar ketahuan orang.."Saya bilang kembali, "Sepi kok Mbak..!"
Dalam keremangan aku melihat dia merapat-rapatkan kedua bibirnya untuk membersihkan lipstiknya. Aku mulai menempelkan bibirku pada pipinya. Busyet, wangi sekali. Kemudian tanpa ba.. bi.. bu lagi kulumat bibirnya. Ternyata dia melawan lumatanku dengan penuh gairah. Tanganku tak dapat diam lagi, kemudian menggerayang ke lehernya terus ke buah dadanya. Waduh, besar sekali. Langsung kuremas dan pelintir puting susunya. Nafas Mbak RS mulai ngos-ngosan.
Tiba-tiba tanganku disentakkan dan ciumanku dihentikan. Dia bilang, "Sudah Kris, jangan terlalu jauh.. aku sudah nikah..!"Tapi aku tidak mau menyerah, dengan penuh trik kupegang tangannya lalu kubimbing ke arah kemaluanku (kupikir pasti aku ditampar karena kurang ajar). Ternyata dia diam saja. Lalu kukeluarkan kemaluanku, kutempelkan tanganya di kemaluanku. Mbak RS terhenyak, "Nekad kamu Kris..""Biarin Mbak..." balasku nakal."Gede dan panjang juga yah barang kamu..." bisik Mbak RS genit."Iya Mbak aku udah enggak tahan lagi nih..." balasku mesra."Nanti aja keluarin di kamar mandi...!" goda Mbak RS."Enggak mau.. pengen sama tangan Mbak..!" bisikku manja."Pusing ya.." Mbak RS terus menggodaku."Iyah..." balasku mantap.
Akhirnya Mbak RS mengeluarkan lotion dari tasnya kemudian mengocok barangku. "Oooh... syhhkkk... nikmatnya.." Tangan Mbak RS yang super halus dan penuh pengalaman mengocok barangku. Selang beberapa saat, "Sreeet.. srettt" keluar sudah spermaku akibat kocokan mesra tangan Mbak RS.
Ketika film selesai kami keluar dan jalan-jalan. Aku membelikan dia baju untuk anaknya, jalan-jalan kembali, makan hingga jam menunjukkan pukul 8 malam."Mbak RS, enggak dimarahin sama Mas.. pulang lambat..?"Tadi udah bilang ada temen ulang tahun jadi pulang agak lambat..."
Aku mengantarnya pulang. Di tengah perjalanan terlihat plang hotel. Pikiranku mulai nakal. Wah bawa saja ke sini. Aku memasukkan mobilku ke hotel.Mbak RS protes, "Mau ngapain ke sini...?"Kita ngobrol.. untuk saling kenal lagi Mbak.. Aku enggak akan nakal kok Mbak", balasku mesra, Mbak RS diam saja.
Ketika telah di dalam, Mbak RS tampak kikuk. Kucoba menenangkannya, "Santai Mbak.." lalu dia membuka sepatunya, aku menghampirinya. "Wah saya kalah tinggi MBak yah.." tapi enggak ada pengaruh kalau udah ditempat tidur. "Mbak aku pengen cium bibir Mbak lagi.." lalu aku menghampirinya, dia diam saja. Kemudian kulumat bibirnya. Dengan setengah paksa kubuka bajunya lalu celana panjangnya, dia berontak lalu kujepit badannya walaupun badannya besar dan montok tapi tenaganya tetap kalah. "Kris.. jangan Kris.. jangan maksa dong..." Aku tidak peduli, dengan cepat kubuka celanaku dan bajuku kemudian dengan sigap kumasukkan barangku yang besar dan panjang ke liang senggamanya yang ternyata sudah basah. Mbak RS melenguh, dengan cepat kugerakkan turun naik. Masih barangku menancap di dalam liang kewanitaannya, kuguling-gulingkan badannya sehingga kadang dia di atas kadang dia di bawah.
Lama-lama dia terangsang juga, akhirnya sama-sama kami mencapai orgasme. Kemudian dengan cepat kujilati bibir kemaluannya sampai kemudian dia orgasme kembali. Akhirnya impianku terwujud untuk menyetubuhi tubuh Mbak RS yang montok, tinggi, agak gemuk dan punya anak 1. Oooh nikmat sekali.
Jika ada rekan-rekan cewek (terutama yang sudah married) mau kenalan silakan kirim e-mail. Barangku besar dan panjang loh.
TAMAT
TANTE TITIK, TETANGGAKU YANG SEKSI
Namaku Didi. Sekarang saya berkerja di salah satu perusahaan multinasional di kota B dan tinggal di daerah J sejak tahun 1995. Cerita yang akan saya tuturkan di bawah ini adalah kisah nyata yang terjadi beberapa tahun yang silam. Dulu saya tinggal bersama kedua orang tuaku di sebuah kompleks kecil milik sebuah instansi pemerintah dan dihuni oleh beberapa keluarga saja di dalam satu pagar. Tetangga yang paling dekat dengan kami adalah Om Yan dan Tante Titik yang mempunyai 2 orang anak laki-laki yang masih kecil-kecil, yang besar berumur 3 tahun dan yang kecil berumur 1 tahun.
Pada saat saya kelas 3 SMA, Om Yan secara kebetulan ditugaskan oleh kantornya untuk belajar ke Jepang (terakhir saya baru tahu kalau Om Yan bertugas selama 1 tahun lebih). Dan tinggallah Tante Titik dan 2 orang anaknya beserta 1 orang pembantunya. Keadaan tersebut membuat saya berhasrat untuk selalu bertandang ke rumahnya dengan alasan ingin bermain dengan kedua anaknya. Alasan tersebut cukup kuat karena orang tua saya dan Tante Titik tidak pernah curiga sama sekali. Seringkali saya juga memergoki Tante Titik sedang berganti pakaian di kamar dengan tidak menutup pintunya, atau mandi dengan tidak menutup pintunya.
Sampai pada suatu ketika, saat saya sedang bertandang ke rumahnya dan hanya Tante Titik yang ada di rumah. Kedua anaknya dan pembantunya di-hijrah-kan ke daerah KD, sebelah timur kota BT karena Tante Titik sering berpergian. Dan kebetulan juga orang tua saya saat itu sedang ditugaskan ke luar daerah. Dengan ikutnya ibu dan kakak saya, yang berarti saya juga hanya tinggal sendiri di rumah.
Sekedar gambaran, Tante Titik itu mempunyai tinggi badan sekitar 165 cm, mempunyai pinggul yang besar, buah pantat yang bulat, pinggang yang ramping, dan perut yang agak rata (ini dikarenakan senam aerobic, fitness, dan renang yang diikutinya secara berkala), dengan didukung oleh buah dada yang besar dan bulat (belakangan saya baru tahu bahwa Tante Titik memakai Bra ukuran 36B untuk menutupinya). Dengan wajah yang seksi menantang dan warna kulit yang putih bersih, wajarlah jika Tante Titik menjadi impian banyak lelaki baik-baik maupun lelaki hidung belang.
Hingga pada suatu sore, saat saya mendengar ada suara langkah kaki di luar, kemudian saya intip dari jendela dan ternyata Tante Titik baru pulang. Tidak lama kemudian saya ingin ke kamar mandi (kamar mandinya terletak di luar masing-masing rumah dan ada beberapa tempat yang berjejer). Di saat saya keluar dari kamar mandi, saya berpapasan dengannya. Dia memakai kimono tipis warna biru muda dengan handuk di pundak dan rambut yang diikat agak ke atas sehingga leher jenjangnya terlihat seksi sekali. Sedangkan saya hanya memakai celana pendek tanpa kaos (memang kalau di rumah, saya jarang memakai kaos/baju).
"Malem Tante", saya sapa dia agar terlihat agak sopan."Malem Mas Dio... kok belum tidur...?" balasnya.Dan tanpa saya sadari tiba-tiba dia mencekal tangan saya."Mas Dio..." katanya tiba-tiba dan terlihat agak sedikit ragu-ragu."Ya Tante...?" Jawab saya."Eeee... nggak jadi deh..." Jawabnya ragu-ragu."Ada yang bisa saya bantu, Tante...? Tanya saya agak bingung karena melihat keragu-raguannya.
"Eeee... nggak kok. Tante cuma mau nanya..." jawabnya dengan ragu-ragu lagi."Mas Dio di rumah lagi ngapain sekarang...?" tanya dia."Lagi nonton. Emangnya kenapa Tante...?" saya tanya dia lagi."Lagi nonton apa sih...?" tanya dia agak menyelidik."Lagi nonton BF Tante", kata saya yang tidak tahu dari mana tiba-tiba saya mendapat keberanian untuk bilang begitu."BF...? tanya dia agak kaget."Maksudnya Blue Film...?""Iya... emangnya ada apa sih Tante? Kalo tidak ada apa-apa saya mau nerusin nonton lagi nih..." kata saya dengan agak memaksa."Eeee... mau bantuin Tante nggak...? Soalnya Tante agak takut sendirian di rumah. Kalau kamu mau sambil nonton juga boleh kok. Bawa aja filmnya ke rumah, Tante juga punya beberapa film seperti itu. Nanti Tante temenin nontonnya deh", kata dia agak merajuk."Iya deh Tante, saya pilihin dulu yang bagus", kataku tanpa ba bi bu langsung setuju dengan ajakannya.
Pucuk di cinta ulam tiba, sesuatu yang sangat aku impikan sejak lama untuk bisa berdua dengan Tante Titik. Hari ini aku akan berdua dengannya sambil menonton Film Biru dengan harapan bisa melihat keindahan ragawi seorang wanita yang aku puja-puja dari dulu dan bahkan (mungkin) merasakan kenikmatannya juga.
Singkat kata saya langsung memilah-milah video yang bagus-bagus (Maklum, waktu itu masih jamannya Betamax, belum VCD). Kemudian saya masuk rumah Tante Titik lewat pintu dapurnya. Saya setel lebih dulu video yang tadi saya tonton dan belum habis. Beberapa menit kemudian Tante Titik masuk lewat pintu dapur juga dengan wangi tubuh yang segar, apalagi rambutnya juga kelihatan basah seperti habis keramas. Saya selidiki tiap sudut tubuhnya yang masih terbalut kimono tipis biru muda yang agak menerawang tersebut, sehingga dengan leluasa mata saya melihat puncak buah dadanya karena dia tidak memakai Bra. Tanpa kusadari, di antara degupan jantungku yang terasa mulai keras dan kencang, kejantananku juga sudah mulai menegang. Dengan santai dia duduk tepat di sebelahku, dan ikut menonton film BF yang sedang berlangsung.
"Cakep-cakep juga yang main..." akhirnya dia memberi komentarnya."Dari kapan Mas Dio mulai nonton film beginian...? tanyanya."Udah dari dulu Tante..." kataku."Mainnya juga bagus dan tidak kasar. Mas Dio udah tahu rasanya belum...? tanya dia lagi."Ya belum Tante. Tapi kata temen-temen sih enak. Emang kenapa Tante, mau ngajarin saya yah? Kalau iya boleh juga sih", kataku."Ah Mas Dio ini kok jadi nakal yah sekarang", katanya sambil mencubit lenganku."Tapi bolehlah nanti Tante ajarin biar kamu tahu rasanya", tambahnya dengan sambil melirik ke arahku dengan agak menantang.
Tidak lama berselang, tiba-tiba Tante Titik menyenderkan kepalanya ke bahuku. Seketika itu pula aku langsung kaget dan bingung karena belum pernah sama sekali melakukan perbuatan itu. Tapi aku hanya bisa pasrah saja oleh perlakuannya. Sebentar kemudian tangan Tante Titik sudah mulai mengusap-ngusap daerah tubuhku sekitar dada dan perut (karena lagi-lagi aku tidak memakai kaos saat itu). Rangsangan yang ditimbulkan dari usapannya cukup membuat aku nervous karena itu adalah kali pertama aku diperlakukan oleh seorang wanita, apalagi wanita tersebut tidak lain adalah Tante Titik. Kejantananku sudah mulai semakin berdenyut-denyut siap bertempur.
Kemudian Tante Titik mulai menciumi leherku, lalu turun ke bawah sampai dadaku. Sampai di daerah dada, dia menjilat-jilat ujung dadaku, secara bergantian kanan dan kiri. Tangan kanan Tante Titik juga sudah mulai masuk ke dalam celanaku, dan mulai mengusap-usap kejantananku.
Karena dalam keadaan yang sudah sangat terangsang, aku mulai memberanikan diri untuk membuka kimono yang dia pakai. Aku remas payudaranya, dan aku pilin-pilin ujung dari payudara yang berwarna kecoklatan dan sangat sensitif itu, terkadang aku juga mengusap ujung-ujung tersebut dengan ujung jariku. "Ssshhh... ya situ sayang..." katanya setengah berbisik. "Sssshhh... ooohhh..."
Tiba-tiba dia memaksa lepas celana pendekku, dan diusapnya kejantananku. Akhirnya bibir kami saling berpagutan dengan penuh nafsu yang sangat membara. Dan dia mulai menjulur-julurkan lidahnya di dalam mulutku. Sambil berciuman tanganku mulai bergerilya ke bawah sampai pada permukaan celana dalamnya, yang rupanya sudah mulai menghangat dan agak lembab. Aku melepaskan celana dalam Tante Titik, sehingga kami berdua menjadi telanjang bulat. Kutempelkan jariku di ujung atas permukaan kemaluannya. Dia kelihatan agak kaget ketika merasakan jariku bermain di daerah seputar klitorisnya. Lama kelamaan Aku masukkan satu jariku, lalu jari kedua dan kemudian aku tambah satu jari lagi sehingga menjadi tiga ke dalam liang kemaluannya. "Aaahhh... ssshhh... ooohhh... terus sayang... terus...." bisik Tante Titik.
Ketika jariku terasa mengenai akhir lubangnya, tubuhnya terlihat agak bergetar. "Ya... terus sayang... terus... aaahhh... ssshhh... ooohhh... aaahhh... terus... sebentar lagi... teruusss... ooohhh... aaahhh... aaarrgghhh..." kata Tante Titik.
Seketika itu pula dia memeluk tubuhku dengan sangat erat sambil menciumku dengan penuh nafsu. Aku merasakan bahwa tubuhnya agak bergetar (yang kemudian baru aku tahu bahwa dia sedang mengalami orgasme). Beberapa saat tubuhnya mengejang-ngejang menggelepar dengan hebatnya. Yang diakhiri dengan terkulainya tubuh Tante Titik yang terlihat sangat lemas di sofa."Saya kapan Tante, kan saya belum...?" Rujukku."Nanti dulu yah sayang, sebentar... beri Tante waktu untuk istirahat sebentar aja", kata Tante Titik.Tapi karena sudah sangat terangsang, kuusap-usap bibir kemaluannya sampai mengenai klitorisnya, aku dekati payudaranya yang menantang itu sambil kujilati ujungnya, sesekali kuremas payudara yang satunya. Sehingga rupanya Tante Titik juga tidak tahan menerima paksaan rangsangan-rangsangan yang kulakukan terhadapnya. Sehingga sesekali terdengar suara erangan dan desisan dari mulutnya yang seksi. Aku usap-usapkan kejantananku yang sudah sangat amat tegang di bibir kemaluannya sebelah atas. Sehingga kemudian dengan terpaksa dia membimbing batang kemaluanku menuju lubang kemaluannya. Pelan-pelan saya dorong kejantananku agar masuk semua.
Kepala kejantananku mulai menyentuh bibir kewanitaan Tante Titik. "Ssshhh..." rasanya benar-benar tidak bisa kubayangkan sebelumnya. Lalu Tante Titik mulai menyuruhku untuk memasukan kejantananku ke liang kewanitaannya lebih dalam dan pelan-pelan. "Aaahhh..." baru masuk kepalanya saja aku sudah tidak tahan, lalu Tante Titik mulai menarik pantatku ke bawah, supaya batang kejantananku yang perkasa ini bisa masuk lebih dalam. Bagian dalam kewanitaannya sudah terasa agak licin dan basah, tapi masih agak seret, mungkin karena sudah lama tidak dipergunakan. Namun Tante Titik tetap memaksakannya masuk. "Aaagghhh..." rasanya memang benar-benar luar biasa walaupun kejantananku agak sedikit terasa ngilu, tapi nikmatnya luar biasa. Lalu terdengar suara erangan Tante Titik.
Lalu Tante Titik mulai menyuruhku untuk menggerakkan kemaluanku di dalam kewanitaannya, yang membuatku semakin gila. Ia sendiri pun mengerang-ngerang dan mendesah tak karuan. Beberapa menit kami begitu hingga suatu saat, seperti ada sesuatu yang membuat liang kewanitaannya bertambah licin, dan makin lama Tante Titik terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang membuat dia berteriak dan mengerang dengan sejadi-jadinya karena tidak kuasa menahannya. Dan tiba-tiba kemaluanku terasa seperti disedot oleh liang kewanitaan Tante Titik, yang tiba-tiba dinding-dinding kewanitaannya terasa seperti menjepit dengan kuat sekali. Aduuuh... kalau begini aku makin tidak tahan dan... "Aaarrggghhh... sayaang... Tante keluar lagiii..." jeritnya dengan keras, dan makin basahlah di dalam kewanitaan Tante Titik, tubuhnya mengejang kuat seperti kesetrum, ia benar-benar menggelinjang hebat, membuat gerakannya semakin tak karuan. Dan akhirnya Tante Titik terkulai lemas, tapi kejantananku masih tetap tertancap dengan mantap.
Aku mencoba membuatnya terangsang kembali karena aku belum apa-apa. Tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kanan, sambil sesekali kupilin-pilin ujungnya dan kuusap-usap dengan ujung jari telunjukku. Sedang payudara kirinya kuhisap sambil menyapu ujungnya dengan lidahku. Tiba-tiba seperti ada sesuatu yang keluar dan terasa hambar dari ujung payudaranya, yang ternyata susu. "Ssshh... shhh..." desahan Tante Titik sudah mulai terdengar lagi. Aku memintanya untuk berganti posisi dengan doggy style. Awalnya dia menolak dengan alasan belum pernah bersetubuh dengan gaya itu, setelah aku beritahu alasanku, akhirnya dia mau juga dengan berpesan agar aku tidak memasukkan air maniku ke dalam liang kewanitaannya.
Aku mencoba untuk menusukkan kejantananku ke dalam liang kewanitaannya, pelan tapi pasti. Kepala Tante Titik agak menengok ke belakang dan matanya melihat mataku dengan sayu, sambil dia gigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang timbul. Sedikit demi sedikit aku coba untuk menekannya lebih dalam. Kejantananku terlihat sudah tertelan semuanya di dalam kewanitaan Tante Titik, lalu aku mulai menggerakkan kejantananku perlahan-lahan sambil menggenggam buah pantatnya yang bulat. Dengan gaya seperti ini, desahan dan erangannya lebih keras, tidak seperti gaya konvensional yang tadi.
Aku terus menggerakkan pinggulku dengan tangan kananku yang kini meremas payudaranya, sedangkan tangan kiri kupergunakan untuk menarik rambutnya agar terlihat lebih merangsang dan seksi. "Ssshhh... aaarrgghhh... ooohh... terus sayaaang... terus... aaarrrggghhh... ooohhh..." Tante Titik terus mengerang.
Beberapa menit berlalu, kemudian Tante Titik merasa akan orgasme lagi sambil mengerang dengan sangat keras sehingga tubuhnya mengejang-ngejang dengan sangat hebat, dan tangannya mengenggam bantalan sofa dengan sangat erat. Beberapa detik kemudian bagian depan tubuhnya jatuh terkulai lemas menempel pada sofa itu sambil lututnya terus menyangga pantatnya agar tetap di atas. Dan aku merasa kejantananku mulai berdenyut-denyut dan aku memberitahukan hal tersebut padanya, tapi dia tidak menjawab sepatah kata pun. Yang keluar dari mulutnya hanya desahan dan erangan kecil, sehingga aku tidak berhenti menggerakkan pinggulku terus.
Aku merasakan tubuhku agak mengejang seperti ada sesuatu yang tertahan, sepertinya semua tulang-tulangku akan lepas dari tubuhku, tanganku menggenggam buah pantat Tante Titik dengan erat, yang kemudian diikuti oleh keluarnya cairan maniku di dalam liang kewanitaan Tante Titik. Mata Tante Titik terlihat agak terbelalak ketika merasakan ada cairan yang memenuhi bagian dalam dari kewanitaannya. Sesaat kemudian aku ambruk di atas tubuhnya, tubuhku terasa sangat lemas sekali. Setelah kami berdua merasa agak tenang, aku melepaskan kejantananku dari liang nikmat milik Tante Titik.
Dengan agak malas Tante Titik membalikkan tubuhnya dan duduk di sampingku sambil menatap tajam mataku dengan mulut yang agak terbuka, sambil tangan kanannya menutupi permukaan kemaluannya."Kok dikeluarin di dalem sih Mas Dio...? tanyanya dengan suara yang agak bergetar."Tadi kan saya sudah bilang ke Tante, kalau punya saya berdenyut-denyut, tapi Tante nggak ngejawab sama sekali..." kataku membela diri."Ya kan terasa kalau sudah mau keluar..." katanya."Saya mana tahu rasanya kalau mau keluar... ini kan yang pertama buat saya. Jadi saya belum tahu rasanya..." jawabku."Terus entar kalau jadi gimana?" katanya lagi."Ngggaakk tahu Tante..." jawabku dengan suara yang agak terbata-bata karena takut dengan resiko tersebut."Ya sudahlah... tapi lain kali kalau sudah kerasa kayak tadi itu langsung buru-buru dicabut dan dikeluarkan di luar ya...?" katanya menenangkan diriku yang terlihat takut."I... iiya Tante..." jawabku sambil menunduk.
Lalu Tante Titik berdiri menghampiri video dan TV yang masih menyala, dan mematikannya. Kemudian tangannya dijulurkan, mengajakku pindah ke kamar untuk tidur. Akhirnya kami tertidur pulas sampai pagi sambil saling berdekapan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
Itulah awal dari perbuatan-perbuatan saya bersama Tante Titik. Selama hampir 2 tahun Tante Titik memberi saya banyak pelajaran dan kenikmatan yang sangat luar biasa. Terkadang jika Tante Titik sedang sangat menginginkannya, aku selalu siap melayaninya, kecuali jika keadaanku sedang tidak fit atau sedang ada keperluan keluarga atau sekolah. Dan jika aku yang sedang menginginkannya, Tante Titik sangat tidak keberatan melayaniku, bahkan dia terlihat sangat senang. Tidak jarang aku diajak pergi untuk melakukan fitness atau olah raga atau hanya sekedar jalan-jalan atau ngerumpi bersama teman-temannya. Akhirnya aku baru tahu kalau Tante Titik sebenarnya sangat haus akan seks, dia adalah wanita yang bertipe agak mendewakan seks. Dan dia akan melakukan apa saja demi seks. Tapi sebenarnya pula dia tidak begitu kuat dalam bersetubuh, sehingga dia bisa berkali-kali mengeluarkan cairannya dan berkali-kali pula tubuhnya terkulai lemas.
TAMAT
IBU KOSKU, KEKASIHKU
Saya ingin menceritakan pengalaman saya waktu masih kuliah semester lima di Bandung sekitar 4 tahun yang lalu. Nama saya sebut saja Iwan dan berasal dari Jakarta dan waktu itu saya kos di dekat daerah Dago. Tempat kosnya lumayan bagus dan ibu kos saya waktu itu berumur sekitar 28 tahun. Suaminya sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas dan dia belum sempat dikaruniai anak. Untuk membiayai kehidupan sehari-harinya dia bekerja di salah satu bank swasta di Bandung.
Sebelumnya saya kos di daerah Cihampelas dan karena ribut dengan salah satu anak kos, saya coba cari tempat kos lain. Rumah kos baru ini saya ketahui dari salah seorang teman yang masih saudara sepupu ibu kos saya. Waktu pertama kali saya datang ke tempat kos, ibu kos saya (sebut saja namanya Rita) agak ragu-ragu karena dia sebenarnya berencana untuk menerima wanita. Maklum karena dia hanya tinggal sendiri ditemani seorang pembantu. Untung akhirnya Mbak Rita mau menerima saya karena tahu saya adalah teman dekat saudara sepupunya.
Sebagai gambaran, Mbak Rita tingginya 163 cm dengan wajah yang cantik. Kulitnya putih dan badannya juga sangat seksi dengan ukuran dada yang lebih besar dari umumnya wanita Indonesia. Belum lama saya tinggal di sana saya mulai tahu kalau Mbak Rita dibalik penampilan luarnya yang cukup alim, ternyata mempunyai libido seks yang cukup tinggi. Waktu itu saya sedang di rumah sendiri dan saya suruh pembantu untuk membelikan makanan di luar. Saya iseng dan masuk ke kamarnya serta membuka lemari pakaiannya. Di lacinya, di bawah tumpukan pakaian dalamnya ternyata terdapat dua buah vibrator yang mungkin sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Mbak Rita juga mempunyai beberapa pakaian dalam dan baju tidur yang sangat seksi. Hal ini sebenarnya sudah saya ketahui dengan memperhatikan pakaian-pakaian dalamnya bila dijemur di halaman belakang rumah.
Di rumahpun Mbak Rita cukup bebas, dia hampir tidak pernah menggunakan bra bila di rumah walaupun dia tahu saya ada di rumah. Di balik baju kaos ketat atau baju tidur yang dikenakannya seringkali putingnya terlihat menonjol dan saya sendiri yang kadang-kadang risih untuk melihatnya. Kalau keluar kamar mandipun Mbak Rita biasanya hanya mengenakan handuk yang tidak terlalu besar dan dililitkan di badannya sehingga kemontokan buah dadanya dan kemulusan pahanya terlihat jelas.
Suatu pagi waktu saya sedang sarapan Mbak Rita masuk ke ruang makan sehabis melakukan senam aerobik di halaman belakang. Dia mengenakan baju senam berwarna merah muda dengan bahan yang cukup tipis tanpa lapisan dalam lagi. Karena bajunya basah oleh keringat, waktu dia masuk saya cukup kaget, karena buah dada dan putingnya terlihat jelas sekali di balik baju senamnya. Saya yakin dia sadar akan hal itu dan sengaja mengenakan baju senam itu untuk menggoda saya. Waktu saya menoleh ke dadanya, Mbak Rita langsung bertanya, "Hayo, lihat apa kamu?" Saya sendiri hanya tersenyum dan berkata, "Ngga lihat apa-apa kok, lagian Mbak pakai baju kok transparan betul sih?" Mbak Rita balik bertanya, "Memangnya kamu nggak suka lihat yang begini?". "Ya suka dong Mbak, namanya juga laki-laki". Waktu itu saya malu sekali dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. Tetapi sepanjang sarapan harus diakui kalau saya berkali-kali mencoba untuk mencuri pandang ke arah dadanya.
Malam harinya ketika saya sedang nonton TV di ruang depan Mbak Rita menghampiri saya dengan menggunakan baju tidurnya yang berwarna putih. Dia ikut nonton TV, dan selang beberapa lama dia berkata kepada saya. "Wan, aku pegal-pegal semua nih badannya, mungkin karena aerobik tadi pagi. Bantu pijitin Mbak yah?" Dengan spontan saya berkata, "Boleh Mbak. Di mana?" "Ke kamar Mbak aja deh", katanya.
Sebenarnya saya sudah menunggu kesempatan ini sejak lama, tetapi memang karena saya orangnya pemalu, saya tidak pernah berani untuk mencoba-coba mengutarakan hal ini ke Mbak Rita. Saya mengikuti Mbak Rita ke kamarnya dan dia menyuruh saya duduk di tempat tidurnya. Mbak Rita kemudian mengambil baby oil dari laci sebelah tempat tidurnya dan memberikannya ke saya. Saya bilang kalau bajunya nanti kotor bila pakai baby oil. Tujuan saya sebenarnya adalah supaya Mbak Rita mau melepaskan baju tidurnya. Mbak Rita langsung mengangkat baju tidurnya di hadapan saya dan yang mengejutkan, dia hanya mengenakan celana dalam G-string berwarna putih yang tidak cukup untuk menutupi bulu kemaluannya yang lebat. Di kiri kanan celananya masih tampak bulu kemaluannya, Tubuhnya indah sekali, payudaranya besar dengan bentuk yang indah dan puting yang berwarna coklat kemerahan.
"Bagaimana Wan, menurut kamu badanku bagus?" Sayapun mengangguk sambil menelan ludah. Baru pertama kali ini saya melihat tubuh wanita dalam keadaan yang hampir telanjang bulat. Biasanya saya hanya melihat di film atau majalah saja (waktu itu belum ada internet seperti sekarang). Mbak Rita kemudian merebahkan badannya dan saya mulai memijitnya dari belakang setelah terlebih dulu mengoleskan baby oil. Luar biasa, kulitnya mulus sekali dan sekujur tubuhnya ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menambah keseksiannya. Pada waktu saya memijit kaki dan pahanya, Mbak Rita membuka kakinya lebih lebar, dan saya dapat melihat kemaluannya yang tercetak jelas pada celana dalamnya yang kecil itu. Belum lagi bulu kemaluannya yang keluar dan menambah indah pemandangan itu. Saya terus memijiti paha bagian dalamnya dan saya sengaja untuk tidak sampai ke selangkangannya agar dia terangsang secara perlahan-lahan. Mbak Rita mengeluarkan lenguhan-lenguhan lembut dan saya tahu dia menikmati pijitan saya. Kakinya juga dibuka lebih lebar dan mengharapkan tangan saya menyentuh kemaluannya. Tetap saja saya sengaja untuk tidak menyentuh kemaluannya. Dari kemaluannya sudah mulai keluar sedikit cairan yang membasahi celana dalamnya. Saya tahu kalau dia sudah terangsang.
Saya minta Mbak Rita membalikkan badannya. Dia langsung menurut dan saya usapkan baby oil di dada dan perutnya. Payudaranya cukup kenyal dan waktu saya memainkan jari-jari saya di putingnya dia menutup matanya dan terlihat benar-benar menikmati apa yang saya lakukan. Kemudian Mbak Rita bangun dan meminta saya membuka pakaian saya. Dia berkata kalau dia sudah benar-benar terangsang dan sejak kematian suaminya dia tidak pernah tidur dengan seorang priapun. Aku minta Mbak Rita yang melucuti pakaianku. Dengan cepat Mbak Rita membuka baju kaos yang aku kenakan dan kemudian celana pendek dan celana dalamku. "Kamu juga sudah terangsang yah Wan?". "Iya dong Mbak, dari tadi juga sudah berdiri begini", kataku sambil tertawa. Mbak Rita kemudian memegang kemaluanku dan mulai melakukan oral seks kepadaku. Terus terang itu adalah pertama kali seorang perempuan melakukan hal itu kepada saya. Waktu SMA saya pernah punya pacar tapi kami tidak pernah melakukan hal-hal sejauh itu. Paling-paling juga kami hanya berpegangan tangan dan berciuman. Mbak Rita ternyata ahli sekali dan saya merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Selang beberapa lama kemudian, Mbak Rita melepaskan celana dalamnya dan menyuruhku tiduran di ranjang dan dia naik di atasku. Kakinya dibuka lebar di atas kepalaku sambil lidahnya menjilati kemaluanku. Pinggulnya diturunkan dan kemaluannya hanya beberapa senti di atas mukaku. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Langsung saja aku menjilati kemaluan dan clitorisnya dari bawah. Ternyata rasanya tidak jijik seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Cairannya sedikit asin dan tidak berbau. Aku tahu kalau dari kesehariannya yang resik, Mbak Rita pasti juga rajin menjaga kebersihan kemaluannya.
Aku terus menjilati kemaluannya dan mulai memberanikan diri menjilati bagian dalamnya dengan membuka kemaluannya dengan jariku lebih lebar. Mbak Rita sangat menikmati dan dia juga menjilati kemaluanku dengan lebih ganas lagi. Kemudian dia bangun dan memintaku memasukkan kemaluanku ke dalam punyanya. "Ayo dong Wan, aku sudah tidak tahan lagi nih". Aku bilang kalau aku belum pernah melakukan hal ini dan Mbak Rita berkata, "Kamu tiduran saja, nanti Mbak akan mengajari kamu." Kemudian Mbak Rita duduk di atasku dan dengan perlahan memasukkan kemaluanku. Rasanya nikmat sekali dan Mbak Rita mulai menggoyangkan pinggulnya. Aku memejamkan mataku dan berpikir kalau beginilah rasanya berhubungan dengan wanita. Kalau sebelumnya hanya imajinasi semata, sekarang aku merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan dengan wanita secantik Mbak Rita.
Malam itu kami berhubungan badan dua kali. Setelah kami selesai yang pertama, Mbak Rita mengajak saya mandi dan kemudian mengganti sprei dengan yang baru karena kotor oleh keringat dan baby oil yang digunakan tadi. Kemudian kita lanjut lagi dan mencoba melakukan gaya-gaya lainnya.
Setelah kejadian malam itu, Mbak Rita sering mengajak saya tidur di kamarnya dan hubungan seks di antara kami menjadi hal yang rutin kami lakukan. Mbak Rita juga suka mengajak saya melakukannya di seluruh bagian rumah, dari ruang tamu sampai halaman belakang. Biasanya bila melakukan di luar kamar, kami melakukannya malam hari setelah pembantu tidur. Pernah sekali pembantu rumah memergoki kami di ruang tengah waktu dia mau mengambil minuman di dapur. Cepat-cepat dia memalingkan muka dan balik ke kamarnya. Setelah itu dia tidak pernah lagi keluar malam-malam dan itu lebih membuat kami lebih bebas melakukannya di rumah. Sewaktu pembantu mudik pada saat lebaran kami menghabiskan waktu di rumah tanpa mengenakan pakaian selembarpun. Mbak Rita yang mengusulkan hal itu dan begitu sampai di rumah Mbak Rita langsung melucuti semua pakaian yang dikenakannya.
Saya juga mulai sering pergi dengan Mbak Rita dan waktu itu hubungan kami sudah layaknya seperti orang pacaran. Diapun sudah tidak mau lagi disapa dengan Mbak dan dia minta saya memanggilnya dengan nama depannya sendiri. Dia juga tidak mau lagi menerima uang kos dari saya dan uang kiriman orang tua dapat saya gunakan untuk bepergian dengan dia. Satu hal yang saya ingin ceritakan, dia jarang sekali mengenakan celana dalam bila pergi keluar rumah, kecuali kalau ke kantor. Pernah juga beberapa kali saya minta dia ke kantor dengan tidak mengenakan celana dalam di balik roknya dan dia menuruti. Kalau saja karyawan laki-laki di bank tempat dia bekerja tahu kalau di balik roknya yang lumayan pendek itu tidak ada apa-apa lagi... Kalau bra, biasanya dia kenakan karena bila tidak akan terlihat jelas dan dia risih bila banyak mata lelaki yang memandang ke arah dadanya.
Hubungan kami masih berlangsung sampai sekarang walaupun orang tuaku tidak menyetujui karena usianya yang jauh lebih tua dan statusnya yang janda. Saya sekarang bekerja di Jakarta dan bila akhir pekan saya selalu menghabiskan waktu saya di Bandung. Rencananya akhir tahun ini kami akan menikah walaupun orang tua saya tidak menyetujui.
TAMAT
Sebelumnya saya kos di daerah Cihampelas dan karena ribut dengan salah satu anak kos, saya coba cari tempat kos lain. Rumah kos baru ini saya ketahui dari salah seorang teman yang masih saudara sepupu ibu kos saya. Waktu pertama kali saya datang ke tempat kos, ibu kos saya (sebut saja namanya Rita) agak ragu-ragu karena dia sebenarnya berencana untuk menerima wanita. Maklum karena dia hanya tinggal sendiri ditemani seorang pembantu. Untung akhirnya Mbak Rita mau menerima saya karena tahu saya adalah teman dekat saudara sepupunya.
Sebagai gambaran, Mbak Rita tingginya 163 cm dengan wajah yang cantik. Kulitnya putih dan badannya juga sangat seksi dengan ukuran dada yang lebih besar dari umumnya wanita Indonesia. Belum lama saya tinggal di sana saya mulai tahu kalau Mbak Rita dibalik penampilan luarnya yang cukup alim, ternyata mempunyai libido seks yang cukup tinggi. Waktu itu saya sedang di rumah sendiri dan saya suruh pembantu untuk membelikan makanan di luar. Saya iseng dan masuk ke kamarnya serta membuka lemari pakaiannya. Di lacinya, di bawah tumpukan pakaian dalamnya ternyata terdapat dua buah vibrator yang mungkin sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Mbak Rita juga mempunyai beberapa pakaian dalam dan baju tidur yang sangat seksi. Hal ini sebenarnya sudah saya ketahui dengan memperhatikan pakaian-pakaian dalamnya bila dijemur di halaman belakang rumah.
Di rumahpun Mbak Rita cukup bebas, dia hampir tidak pernah menggunakan bra bila di rumah walaupun dia tahu saya ada di rumah. Di balik baju kaos ketat atau baju tidur yang dikenakannya seringkali putingnya terlihat menonjol dan saya sendiri yang kadang-kadang risih untuk melihatnya. Kalau keluar kamar mandipun Mbak Rita biasanya hanya mengenakan handuk yang tidak terlalu besar dan dililitkan di badannya sehingga kemontokan buah dadanya dan kemulusan pahanya terlihat jelas.
Suatu pagi waktu saya sedang sarapan Mbak Rita masuk ke ruang makan sehabis melakukan senam aerobik di halaman belakang. Dia mengenakan baju senam berwarna merah muda dengan bahan yang cukup tipis tanpa lapisan dalam lagi. Karena bajunya basah oleh keringat, waktu dia masuk saya cukup kaget, karena buah dada dan putingnya terlihat jelas sekali di balik baju senamnya. Saya yakin dia sadar akan hal itu dan sengaja mengenakan baju senam itu untuk menggoda saya. Waktu saya menoleh ke dadanya, Mbak Rita langsung bertanya, "Hayo, lihat apa kamu?" Saya sendiri hanya tersenyum dan berkata, "Ngga lihat apa-apa kok, lagian Mbak pakai baju kok transparan betul sih?" Mbak Rita balik bertanya, "Memangnya kamu nggak suka lihat yang begini?". "Ya suka dong Mbak, namanya juga laki-laki". Waktu itu saya malu sekali dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. Tetapi sepanjang sarapan harus diakui kalau saya berkali-kali mencoba untuk mencuri pandang ke arah dadanya.
Malam harinya ketika saya sedang nonton TV di ruang depan Mbak Rita menghampiri saya dengan menggunakan baju tidurnya yang berwarna putih. Dia ikut nonton TV, dan selang beberapa lama dia berkata kepada saya. "Wan, aku pegal-pegal semua nih badannya, mungkin karena aerobik tadi pagi. Bantu pijitin Mbak yah?" Dengan spontan saya berkata, "Boleh Mbak. Di mana?" "Ke kamar Mbak aja deh", katanya.
Sebenarnya saya sudah menunggu kesempatan ini sejak lama, tetapi memang karena saya orangnya pemalu, saya tidak pernah berani untuk mencoba-coba mengutarakan hal ini ke Mbak Rita. Saya mengikuti Mbak Rita ke kamarnya dan dia menyuruh saya duduk di tempat tidurnya. Mbak Rita kemudian mengambil baby oil dari laci sebelah tempat tidurnya dan memberikannya ke saya. Saya bilang kalau bajunya nanti kotor bila pakai baby oil. Tujuan saya sebenarnya adalah supaya Mbak Rita mau melepaskan baju tidurnya. Mbak Rita langsung mengangkat baju tidurnya di hadapan saya dan yang mengejutkan, dia hanya mengenakan celana dalam G-string berwarna putih yang tidak cukup untuk menutupi bulu kemaluannya yang lebat. Di kiri kanan celananya masih tampak bulu kemaluannya, Tubuhnya indah sekali, payudaranya besar dengan bentuk yang indah dan puting yang berwarna coklat kemerahan.
"Bagaimana Wan, menurut kamu badanku bagus?" Sayapun mengangguk sambil menelan ludah. Baru pertama kali ini saya melihat tubuh wanita dalam keadaan yang hampir telanjang bulat. Biasanya saya hanya melihat di film atau majalah saja (waktu itu belum ada internet seperti sekarang). Mbak Rita kemudian merebahkan badannya dan saya mulai memijitnya dari belakang setelah terlebih dulu mengoleskan baby oil. Luar biasa, kulitnya mulus sekali dan sekujur tubuhnya ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menambah keseksiannya. Pada waktu saya memijit kaki dan pahanya, Mbak Rita membuka kakinya lebih lebar, dan saya dapat melihat kemaluannya yang tercetak jelas pada celana dalamnya yang kecil itu. Belum lagi bulu kemaluannya yang keluar dan menambah indah pemandangan itu. Saya terus memijiti paha bagian dalamnya dan saya sengaja untuk tidak sampai ke selangkangannya agar dia terangsang secara perlahan-lahan. Mbak Rita mengeluarkan lenguhan-lenguhan lembut dan saya tahu dia menikmati pijitan saya. Kakinya juga dibuka lebih lebar dan mengharapkan tangan saya menyentuh kemaluannya. Tetap saja saya sengaja untuk tidak menyentuh kemaluannya. Dari kemaluannya sudah mulai keluar sedikit cairan yang membasahi celana dalamnya. Saya tahu kalau dia sudah terangsang.
Saya minta Mbak Rita membalikkan badannya. Dia langsung menurut dan saya usapkan baby oil di dada dan perutnya. Payudaranya cukup kenyal dan waktu saya memainkan jari-jari saya di putingnya dia menutup matanya dan terlihat benar-benar menikmati apa yang saya lakukan. Kemudian Mbak Rita bangun dan meminta saya membuka pakaian saya. Dia berkata kalau dia sudah benar-benar terangsang dan sejak kematian suaminya dia tidak pernah tidur dengan seorang priapun. Aku minta Mbak Rita yang melucuti pakaianku. Dengan cepat Mbak Rita membuka baju kaos yang aku kenakan dan kemudian celana pendek dan celana dalamku. "Kamu juga sudah terangsang yah Wan?". "Iya dong Mbak, dari tadi juga sudah berdiri begini", kataku sambil tertawa. Mbak Rita kemudian memegang kemaluanku dan mulai melakukan oral seks kepadaku. Terus terang itu adalah pertama kali seorang perempuan melakukan hal itu kepada saya. Waktu SMA saya pernah punya pacar tapi kami tidak pernah melakukan hal-hal sejauh itu. Paling-paling juga kami hanya berpegangan tangan dan berciuman. Mbak Rita ternyata ahli sekali dan saya merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Selang beberapa lama kemudian, Mbak Rita melepaskan celana dalamnya dan menyuruhku tiduran di ranjang dan dia naik di atasku. Kakinya dibuka lebar di atas kepalaku sambil lidahnya menjilati kemaluanku. Pinggulnya diturunkan dan kemaluannya hanya beberapa senti di atas mukaku. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Langsung saja aku menjilati kemaluan dan clitorisnya dari bawah. Ternyata rasanya tidak jijik seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Cairannya sedikit asin dan tidak berbau. Aku tahu kalau dari kesehariannya yang resik, Mbak Rita pasti juga rajin menjaga kebersihan kemaluannya.
Aku terus menjilati kemaluannya dan mulai memberanikan diri menjilati bagian dalamnya dengan membuka kemaluannya dengan jariku lebih lebar. Mbak Rita sangat menikmati dan dia juga menjilati kemaluanku dengan lebih ganas lagi. Kemudian dia bangun dan memintaku memasukkan kemaluanku ke dalam punyanya. "Ayo dong Wan, aku sudah tidak tahan lagi nih". Aku bilang kalau aku belum pernah melakukan hal ini dan Mbak Rita berkata, "Kamu tiduran saja, nanti Mbak akan mengajari kamu." Kemudian Mbak Rita duduk di atasku dan dengan perlahan memasukkan kemaluanku. Rasanya nikmat sekali dan Mbak Rita mulai menggoyangkan pinggulnya. Aku memejamkan mataku dan berpikir kalau beginilah rasanya berhubungan dengan wanita. Kalau sebelumnya hanya imajinasi semata, sekarang aku merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan dengan wanita secantik Mbak Rita.
Malam itu kami berhubungan badan dua kali. Setelah kami selesai yang pertama, Mbak Rita mengajak saya mandi dan kemudian mengganti sprei dengan yang baru karena kotor oleh keringat dan baby oil yang digunakan tadi. Kemudian kita lanjut lagi dan mencoba melakukan gaya-gaya lainnya.
Setelah kejadian malam itu, Mbak Rita sering mengajak saya tidur di kamarnya dan hubungan seks di antara kami menjadi hal yang rutin kami lakukan. Mbak Rita juga suka mengajak saya melakukannya di seluruh bagian rumah, dari ruang tamu sampai halaman belakang. Biasanya bila melakukan di luar kamar, kami melakukannya malam hari setelah pembantu tidur. Pernah sekali pembantu rumah memergoki kami di ruang tengah waktu dia mau mengambil minuman di dapur. Cepat-cepat dia memalingkan muka dan balik ke kamarnya. Setelah itu dia tidak pernah lagi keluar malam-malam dan itu lebih membuat kami lebih bebas melakukannya di rumah. Sewaktu pembantu mudik pada saat lebaran kami menghabiskan waktu di rumah tanpa mengenakan pakaian selembarpun. Mbak Rita yang mengusulkan hal itu dan begitu sampai di rumah Mbak Rita langsung melucuti semua pakaian yang dikenakannya.
Saya juga mulai sering pergi dengan Mbak Rita dan waktu itu hubungan kami sudah layaknya seperti orang pacaran. Diapun sudah tidak mau lagi disapa dengan Mbak dan dia minta saya memanggilnya dengan nama depannya sendiri. Dia juga tidak mau lagi menerima uang kos dari saya dan uang kiriman orang tua dapat saya gunakan untuk bepergian dengan dia. Satu hal yang saya ingin ceritakan, dia jarang sekali mengenakan celana dalam bila pergi keluar rumah, kecuali kalau ke kantor. Pernah juga beberapa kali saya minta dia ke kantor dengan tidak mengenakan celana dalam di balik roknya dan dia menuruti. Kalau saja karyawan laki-laki di bank tempat dia bekerja tahu kalau di balik roknya yang lumayan pendek itu tidak ada apa-apa lagi... Kalau bra, biasanya dia kenakan karena bila tidak akan terlihat jelas dan dia risih bila banyak mata lelaki yang memandang ke arah dadanya.
Hubungan kami masih berlangsung sampai sekarang walaupun orang tuaku tidak menyetujui karena usianya yang jauh lebih tua dan statusnya yang janda. Saya sekarang bekerja di Jakarta dan bila akhir pekan saya selalu menghabiskan waktu saya di Bandung. Rencananya akhir tahun ini kami akan menikah walaupun orang tua saya tidak menyetujui.
TAMAT
Langganan:
Komentar (Atom)













